Hairiyadi’s Weblog

HIDUP ADALAH PERJUANGAN

HATI YANG AMANAH (TAMAT) Oktober 23, 2009

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — hairiyadi @ 12:03 pm

Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya

Pancaran sang penguasa cahaya secara perlahan mulai meredup terhalang oleh gumpalan-gumpalan awan bak jelaga yang bergerak menggerombol rendah mengombak diantara bumi dan langit. Warna biru yang menghampar sebatas cakrawala tersapu oleh warna mengabu terhimpun menyatu bagaikan raksasa mengangkang angkasa. Tiupan Batara Bayu memperdengarkan bunyi mendesir, berdesau dan mendengung secara bergantian tanpa jeda, tanpa irama, menggoyang dahan, ranting serta meliuk-liukkan pucuk-pucuk daun pepohonan. Serpihan-serpihan kapuk yang keluar dari buahnya yang sudah mengering dan merekah, beterbangan mengayun mengikuti gelombang tiupan Batara Bayu  membentuk titik-titik putih diantara rona gumpalan-gumpalan awan yang menghitam. Hawa dingin mulai menyeruak dan menerpa pemukiman yang sepi. Hawa yang dingin juga menyelusup kedalam pondok dimana Annur, ibunya dan Lyra Auradianty yang sedang dilanda kesedihan terbawa oleh sapuan sang bayu.

Batin Lyra Auradianty yang terbawa oleh hempasan dari pemandangan yang mengiris relung-relung hatinya mengumbar ribuan rasa berkecamuk menerawang kehidupan Annur bersama ibunya. Apakah pemandangan yang dilihatnya merupakan wujud dari lingkaran pemahaman tentang kesehatan dan penyakit berasal dari sebuah keyakinan bahwa segalanya merupakan bentuk kehendak sang maha dalang karena ulah manusia sendiri yang memainkan lakonnya tidak selaras dengan harmoni alam. Apakah kemiskinan difahami sebagai sesuatu yang harus diterima tanpa ada hak untuk mengubahnya. Kalau begitu, inikah bentuk dari tindakan yang manusia yang dianggap bertentangan dengan keselarasan alam dan inikah bentuk dari sikap pasrah yang diyakini oleh mereka.

Lyra Auradianty mengeluarkan stateskop dan alat pengukur tekanan darah dari dalam tasnya, sebagai manusia biasa walaupun dia seorang dokter, tak urung tangannya bergetar halus yang nampak dari goyangan alat-alat yang terpegang di tangannya. Dia berusaha dengan keras untuk menguasai perasaannya, perlahan namun terlatih dperiksanya kondisi ibu Annur, sungguh memprihatinkan, tubuh kurus, kulit mengering dan mata yang meredup telah mengidap penyakit kekurangan gizi yang parah.

Lyra Auradianty meletakkan tangan ibunya Annur di pangkuannya, mata yang redup berpendar di dalam rongga mata yang cekung, kosong memandang ke atas, ke atap pondok yang compang-camping sehingga seolah-olah memberikan ruang untuk lintasan cahaya berbentuk garis-garis lurus mengisi ruangan dalam pondok. Tarikan napas yang berat dan bunyi desis yang halus keluar dari mulut Lyra Auradianty, seakan dia berusaha untuk melepaskan beban berat yang menghimpit dadanya. Dengan rona muka yang dibuat setenang mungkin, Lyra Auradianty memandang Annur dan melambai memberi isyarat untuk mendekat kepadanya. Dipegangnya pundak Annur sambil mendekatkan wajahnya.

“Annur, saya kira ibumu ini kita bawa saja ke rumah saya ya …. ?  Supaya nantinya saya lebih leluasa memberikan perawatan.” sembari mata Lyra Auradianty memandang mata Annur, jauh menerobos sampai ke relung hati Annur yang terdalam. Annur menundukkan wajahnya, degup jantungnya bergerak dengan cepat, wajahnya berubah pucat.

“Apakah penyakit ibu saya parah ? Dan kalau harus dirawat oleh ibu dokter, bagaimana kami harus membayar biaya perawatan itu?” suara Annur bagaikan sayup-sayup terdengar.

“Oh, penyakit ibumu tidaklah terlampau parah, hanya untuk saat ini ibumu butuh perawatan dari seorang dokter. Annur tidak usah memikirkan soal biaya perawatan, semuanya tanggung jawab saya.” Suara Lyra Auradianty terdengar tegas dan meyakinkan.

Gumpalan-gumpalan awan bertambah hitam dan memekat. Gerakannya bertambah cepat seolah-olah ingin menutup bentangan langit. Seekor elang terbang melintas dengan kepakan sayap mengibas suara dengungan tiupan sang bayu yang berdesau ditingkahi oleh suara burung ‘kacicirak’ yang nyaring dengan nada berirama memoles desauan suara sang bayu. Dua ekor katak hijau melompat-lompat berkejaran di hamparan daun-daun teratai kemudian menghilang di rumpunan tumbuhan eceng gondok. Pancaran sang penguasa cahaya mulai tampak memerah bergerak lambat menempel pada tiga per empat batas cakrawala.

Lyra Auradianty membereskan semua peralatannya dan Annur mengambil beberapa potong sarung dan baju ibunya yang sudah lusuh dan berumur tua, dimasukkannya ke dalam kantongan plastik. Selanjutnya mereka berdua bersiap-siap untuk mengangkat tubuh ibunya Annur untuk diturunkan dari pondok dan dimasukkan ke dalam perahu. Mereka terkejut … mata ibunya Annur terbuka tanpa berkedip, mulutnya setengah terbuka, warna memucat semakin nyata, dadanya bergerak tak beraturan. Lyra Auradianty dengan segera memegang pergelangan tangan ibunya Annur, penuh perhatian, penuh konsentrasi, sedangkan Annur sendiri duduk terpaku, bingung, khawatir menyatu dalam hatinya.

Suara tiupan tambah berdesau, hempasannya semakin menguat, pintu pondok yang tanpa engsel nampak bergerak-gerak, beberapa potong atap terlepas, terbang menjauh kemudian terlempar, menukik menyentuh ranting pohon galam dan menggeletak di atas pusaran air.

Napas ibunya Annur nampak semakin memburu, tubuhnya bergetar hebat, rona memucat sudah memenuhi seluruh tubuh, dengan satu tarikan napas yang kuat dalam hitungan detik tubuh ibunya Annur telah berubah menjadi sekujur tubuh yang kaku.

“Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun” terdengar suara Lyra Auradianty dan Annur yang hampir bersamaan.

Sesaat Annur memandangi wajah ibunya, dengan perlahan wajahnya menelungkup pada dada ibunya, genangan bulir-bulir kristal putih membasahi sarung penutup tubuh ibunya, tangan kanan Annur mengusap wajah ibunya sambil menelusuri tiap lekukan yang terdapat di wajah tersebut, seolah-olah Annur ingin membawa semua sentuhan tangannya ke dalam jiwanya.

Lyra Auradianty terduduk bagaikan patung tanpa roh, jiwanya kosong melayang-layang ikut terlarut bersama desauan angin, kadang terangguk laksana pucuk-pucuk daun galam yang lemah tak berdaya. Seekor anak kucing nampak duduk di sudut dinding pondok, matanya memandang apa yang ada di hadapannya, telinganya bergerak-gerak menepis nyamuk-nyamuk yang berseliweran di dekatnya.

“Begitulah om ceritera pertemuan saya dengan Annur” kata Lyra Auradianty.

“Hhhhhh ….” terdengar desahan tarikan napas om Murdi. “Sungguh, pertemuan yang tragis” kata om Murdi pendek.

“Annur anak yang rajin dan berbudi walaupun prestasi belajarnya di sekolah biasa-biasa saja, namun masih terngiang apa yang pernah diutarakan oleh almarhum Yanuar pada saya, bangsa ini tidak kekurangan memiliki anak-anak bangsa yang cerdas dan berprestasi gemilang, tetapi tidak banyak memiliki anak-anak yang rajin dan berbudi. Banyak pemimpin-peminpin yang dilahirkan dengan kecerdasan dan segudang prestasi gemilang, tetapi bangsa ini lebih membutuhkan tidak hanya pemimpin yang cerdas dan berprestasi gemilang tetapi lebih dari itu PEMIMPIN YANG BERBUDI.” kata Lyra Auradianty.

Om Murdi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap dagunya. “Jadi apa yang dilakukan oleh Lyra ini merupakan usaha untuk mewujudkan apa yang telah dikatakan oleh almarhum Yanuar dengan kata lain wujud sebuah amanah?” sela om Murdi.

Lyra Auradianty mengangguk halus sambil matanya memandang ke halaman rumah.

Empat ekor kupu-kupu pancawarna beterbangan diantara kumbang-kumbang pengisap madu, seekor kupu-kupu itu hingga di kuntum bunga matahari, terayun-ayun di situ sambil sayapnya menyapu dengan kibasan lembut membentuk bauran warna di latar bunga matahari yang merah.

*** tamat ***

 

HATI YANG AMANAH (PART 2) Oktober 16, 2009

Diarsipkan di bawah: Fiksi — hairiyadi @ 11:20 am

Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya

Pohon-pohon galam tumbuh laksana hamparan permadani hijau yang memenuhi bentangan rawa yang luas. Warna kulit batangnya yang kuning ke putih-putihan memberikan sapuan ditengah rentang kehijauan dedaunan yang merimbun. Di ranting-ranting pepohonan galam itu bertengger kerumunan kelompok burung bangau putih yang matanya selalu awas memperhatikan ikan-ikan yang siap untuk dimangsanya. Beberapa diantaranya sedang asyik menelisik sela-sela sayap dengan paruhnya yang panjang. Bulu-bulu putihnya beterbangan kian-kemari, ringan bagaikan kapas, turun-naik bergelombang tertiup angin. Diantara pohon-pohon perdu air beberapa burung ‘binti’ diam bagaikan boneka kayu yang tertancap pada ranting pohon, bulu sayap yang berwarna hijau kehitaman dengan bulu dada kecoklatan, paruh berwarna merah dan mahkota yang berwarna kuning nampak indah bagaikan rangkaian warna mutu manikam. Dia terkenal sebagai burung yang penyabar, sabar dalam mengais rezeki peyambung kehidupannya. Monyet-monyet bergayutan, terayun dan kemudian melompat-lompat dari ranting ke ranting, dari satu pohon ke pohon yang lain.
Langit cerah membiru. Gumpalan awan putih bergerak perlahan-lahan. Bentuknya selalu berubah-ubah. Sekali waktu gumpalan yang satu menggabung menyatu dengan gumpalan awan yang lain, pada ketika yang lain satu gumpulan memecah menjadi beberapa gumpalan kecil, terus begerak dan terus berubah. Ada suatu saat mereka saling mendekati dan pada suatu saat yang mereka saling menjauhi, terus menjauh sampai hilang dari penglihatan mata.
Tumbuhan teratai sedang musim berbunga. Tangkainya yang panjang menyembul dari piringan daunnya yang lebar, bersegi berwarna hijau. Kelopak bunganya sedang membuka berbentuk helaian-helaian. Beberapa kelompok teratai memperlihatkan helaian kelopak bunga yang berwarna putih dan di kelompok lainnya berwarna merah muda. Serombongan serangga kecil kecil bersayap sedang sibuk mengerumuni putik bunga-bunga teratai itu. Burung-burung belibis berenang menyeruak diantara tumbuhan teratai, dengan tangkas beberapa diantaranya menyeluruk ke dalam air dan kemudian dengan sigapnya terbang mengangkasa.
Dari kejauhan pandangan mata terhampar semacam pemukiman yang berdiri di atas bentangan rawa yang luas. Usapan sinar mentari memberikan penjelasan serba terbatas tentang pemukiman itu. Setelah agak dekat, nampak bahwa di situ adalah himpunan pondok-pondok tempat penghuninya bertempat tinggal. Pondok-pondok itu dibangun dengan bahan bangunan utama dari kayu galam, dindingnya pun dari bahan kulit kayu galam juga, beratap rumbia dan berlantai bambu yang disusun berjajar. Tidak nampak para penghuninya, hanya terdengar sayup-sayup di pendengaran telinga sebuah lagu dangdut ‘Menunggu’ yang dinyanyikan oleh Ridho Rhoma. Sebuah pemukiman yang nyaris sepi.
Haluan perahu yang dikemudikan Annur mengarah pada salah satu pondok yang letaknya agak berjauhan diantara pondok-pondok lainnya, sebuah pondok dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar 3 meter, mempunyai satu pintu dan satu jendela. Dindingnya sudah banyak yang terlepas sehingga disana-sini kelihatan lubang-lubang bagaikan bidang datar yang bopeng-bopeng. Begitu pun juga atapnya tidak lebih baik dari dindingnya, sudah sangat tua dan usang. Sudah pasti apabila diterpa oleh turunnya hujan yang sangat deras maka air akan masuk dengan leluasa ke dalam pondok. Tanpa halaman, sekelilingnya hanya air.
Dengan perlahan-lahan perahu mendekati salah satu tiang dari tangga naik ke atas pondok. Perahu diposisikan secara melintang dan salah satu bagian dindingnya didempetkan pada salah satu anak tangga. Annur meminta permisi untuk melintas di depan Lyra Auradianty sambil membungkukkan badannya menuju ke arah haluan. Dengan berjalan secara hati-hati agar perahu tidak oleng karena gerakannya. Sesampai di haluan diambil tali penambat perahu, diikatkannya dengan kuat pada salah satu tiang tangga naik. Uppsss … kaki Annur menjejak ke atas anak tangga.
“Mari bu dokter … inilah pondok tempat tinggal kami, semoga bu dokter tidak risi singgah di sini” kata Annur sambil mengulurkan tangan kecilnya untuk membantu Lyra Auradianty naik ke atas dari dalam perahu yang ditumpanginya. Lyra Auradianty naik ke atas dengan tangan kanannya berpegangan pada tangan Annur, sedangkan tangan kirinya memegang pagar tangga. Annur berada di depan mendahului Lyra Auradianty ketika menuju pintu pondok yang tertutup tidak terlalu rapat. Pintu pondok ternyata tidak bersatu dengan dinding dengan rekatan sepasang engsel tetapi hanya disandarkan saja seadanya.
“Ibu … ini Annur sudah datang” kata Annur, kemudian tangannya ke arah Lyra Auradianty. “Dan ini ibu dokter Lyra Auradianty yang ingin berkunjung ke pondok kita ini.”
Dengan sapuan matanya, nampak oleh Lyra Auradianty seorang ibu yang sedang hamil tergolek lemah di atas kasur. Kasur usang dan sudah tua termakan usia, isi kapuknya sudah sangat tipis, benang jahitan pada kain pembungkusnya sudah banyak yang terlepas. Alas kasurnya, sarung batik yang sudah lusuh dan banyak sobekan di sana-sini. Sarung batik itu pun tidaklah mampu menutupi seluruh bidang kasur. Bantalnya pun tipis, sudah usang dan tua pula, tanpa sarung. Secara sekilas terlihat banyak bercak-bercak yang memenuhi bantal itu. Bercak-bercak dari tumpuhan airmata yang sudah mengering. Ibu Annur yang sedang hamil tergolek di atas kasur itu, badannya sudah kurus, kulit tubuh dan bibir mengering, matanya kuyu hampir menyipit membentang bagaikan sebuah garis tebal yang lurus, rambut tergerai acak-acakan tak terurus. Lurus sejajar dengan hunjuran kaki berjarak kurang lebih 50 centimeter terdapat sebuah dapur tanah berisikan potongan-potongan kayu galam yang baranya masih menyala, asap yang tipis menyebar mengisi seluruh ruang pondok. Dekat kepala di samping sebelah kiri sebuah cerek dan cangkir aluminium teronggok bagaikan penunggu setia ibu Annur yang terbaring lemah.
Annur dan Lyra Auradianty melangkah secara perlahan menghampiri tubuh kurus terkulai yang hanya tinggal daging pembalut tulang. Annur duduk di samping kiri ibunya dan Lyra Auradianty di sebelah kanannya. Dengan tangan kanannya Lyra Auradianty menyalami ibu Annur. “Ibu, saya Lyra Auradianty, temannya Annur, saya bertemu dengannya dan kemudian saya mengajaknya untuk berkunjung ke rumah ibu ini.” Mata ibu Annur menatap sendu dan kuyu ke arah Lyra Auradianty, tangannya yang bersalaman terasa dingin dan bergetar. Bibirnya yang terkatup terbuka dengan berat dan perlahan mengucapkan kata yang hampir tak terdengar: “te … te … rima kaa…sih, ibu … baaa..ik sekali,” katanya pendek. Mendengar suara dan melihat kondisi fisik ibu Annur, terasa sesak yang menggumpal-gumpal dalam dada Lyra Auradianty, lehernya bagaikan tercekik, lidahnya kelu, lunglai tulang-belulangnya bagikan tak mampu menahan tubuhnya. Apa yang bisa diperbuat oleh Annur dalam kondisi ibunya yang demikian? Adakah harapan-harapan yang bisa tumbuh dalam jiwa ibunya Annur dengan segala kepapaannya? Adakah keinginan yang ditumpukan pada Annur seandainya Tuhan menjemputnya? Beribu pertanyaan memenuhi kepala Lyra Auradianty. Sesaat dirinya serasa melayang, pandangannya kosong menatap tubuh ibunya Annur. Sungguh perasaannya sangat trenyuh. Annur terdiam, begitu juga Lyra Auradianty. Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara dua ekor cecak yang berkejaran memperebutkan mangsa seekor capung kecil yang kebetulan terbang melintas di dekatnya., suara tretek … tek … tek kecil mengisi kesunyian. Di luar pondok terdengar suara elang bondol menggelombang terbawa angin yang bertiup semilir, meliuk, meyusup ke sela-sela pepohonan galam, mengiris pilu hingga mengisi relung hati Lyra Auradianty yang terpaku sedih, duduk bersimpuh di depan tubuh ibunya Annur. Annur memandangi ibunya, sebaris putih bening mulai mengabur dimatanya, menyusup menjadi titik-titik di pelupuk dan bulu matanya, kemudian berliku-liku dipipi menyatu dan bergantung didagunya, akhirnya jatuh dan meghilang di sela-sela lantai bambu.

***bersambung***

 

NAMAKU DAN NAMAMU, KENANGAN ITU (HABIS) Oktober 11, 2009

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — hairiyadi @ 11:48 pm

Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya

Matahari bergerak dengan perlahan ke arah barat, cahayanya berpendar  dengan memancarkan warna merah keperak-perakkan. Bayangan pepohonan yang tertimpa oleh cahaya matahari itu semakin memanjang. Tiupan sang bayu menggoyang-goyang rumpun-rumpun bambu dengan menimbulkan bunyi gemerisik, berdesir ditingkahi oleh irama nyanyian burung kutilang yang terbang dan meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain. (lagi…)

 

NAMAKU DAN NAMAMU, KENANGAN ITU (CERPEN) Oktober 4, 2009

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — hairiyadi @ 9:20 am

Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya

Semuanya sudah berubah. Dulu, disini kebun singkong. Kebun singkong yang luas, dibawahnya menghampar tanaman ketela rambat dan tanaman kacang tanah. Karena itu warna hijaunya daun mendominasi sampai batas-batas pemandangan mata. (lagi…)

 

AIRMATA UNTUK AYAH September 27, 2009

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — hairiyadi @ 4:06 am

Penulis: Hairiyadi (Kelana Budaya)

Ananda Yanuar yang ayah sayangi dan ayah cintai.

Bagaimana kabar ananda Yanuar? Ayahanda berharap keadaan ananda Yanuar sehat wal a’afiat dan selalu mendoakan ananda Yanuar agar selalu mendapat kemajuan dalam studinya.

Keadaan ayahanda, ibunda serta keluarga lainnya di kampung saat ini sehat2 saja dan mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ayahanda dapat memahami surat ananda Yanuar yang mengabarkan belum bisa pulang ke kampung berkumpul bersama keluarga pada lebaran tahun ini karena ananda Yanuar harus mengikuti ujian lisan untuk salah satu mata kuliah yang dilaksanakan dua hari sesudah lebaran, tentunya ananda Yanuar sudah harus mempersiapkan diri jauh hari sebelum pelaksanaan ujian lisan tersebut.

Kerinduan ayahanda, ibunda dan seluruh keluarga pada ananda Yanuar, sebaliknya kerinduan ananda Yanuar pada ayahanda, ibunda, keluarga-keluarga yang lain serta kampung halaman, pasti ada. Namun karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk mengobati kerinduan tersebut maka kita harus bersabar.

Sampai disini dahulu surat ayahanda, jangan tinggalkan sholat dan jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengabul Segala Doa, kurangi kebiasaan merokoknya yah.

Salam rindu dari ayahanda.

Sepucuk yang dibaca oleh Yanuar yang dikirimkan oleh ayahnya sebagai balasan atas surat yang dikirmkan Yanuar lima hari yang lalu. Yanuar lega karena keadaan ayah dan ibunya serta keluarganya yang lain di kampung sehat-sehat saja, selain itu Yanuar juga merasa lega karena ayah dan ibunya dapat memahami ketidak hadirannya di tengah-tengah keluarga pada lebaran tahun ini karena dia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian salah satu mata kuliah yang dilaksanakan dua hari sesudah lebaran.

*****

Malam semakin larut, namun Yanuar tidak beranjak dari meja belajarnya, setumpuk buku referensi perkuliahan dan segepok catatan-catatan kuliah terhampar dihadapannya. Buku demi buku, catatan demi catatan kuliah dibacanya dengan sungguh-sungguh. Yanuar mengkonsentrasikan dirinya secara penuh terhadap apa yang dibacanya, dia betul-betul ingin lulus secara terhormat di hadapan dosen yang akan mengujinya pada ujian lisan nantinya. Aku harus lulus, aku harus memberikan bukti pada ayah dan ibuku bahwa ketidak hadiranku pada lebaran tahun ini di tengah-tengah keluarga memang membuahkan hasil yang memuaskan, ayah dan ibuku tentu akan bangga dan sangat gembira dengan kesungguhanku dalam studi, aku anak tunggal yang diharapkan keberhasilannya oleh mereka. Begitulah suara batin dan tekad Yanuar.

Ketika ngantuk mulai menggoda, Yanuar segera ke belakang mengusapkan air dingin yang segar ke wajah dan kepalanya, kemudian dinyalakannya rokoknya, dihisapnya dengan dalam kemudian menghembuskan asapnya dengan santai dan pelan. Sesudahnya, Yanuar kembali larut dalam keseriusannya membaca bahan-bahan untuk ujian lisannya.

*****

Tok tok tok tok tok

Terdengar bunyi ketokan di pintu rumah kostnya. Yanuar terkejut, dia menoleh ke arah pintu. Siapa ya? Ada apa ya? Gumam Yanuar dengan pelan. Yanuar berdiri dari kursinya dan beranjak menuju pintu kemudian dia membukanya sedikit demi sedikit.

Assamualaikum …..?! terdengar suara dari luar pintu. Wa alaikumsalam, Yanuar membalas ucapan salam dari luar pintu.

“Oouuu …. pak RT, silahkan masuk pak!” kata Yanuar setelah mengenali orang memberi salam.

“Ya, terimakasih! Ini nak Yanuar, ada keluarga dari nak Yanuar yang datang dari kampung ingin bertemu nak Yanuar”

“Oooouuu …. begitu! Silahkan saja! Siapa ya pak?” sembari mata Yanuar mencoba mengenali wajah dua orang laki-laki yang berdiri di belakang Yanuar.

“Wah tumben, om Hasan dan itu om Murdi ya?”  suara Yanuar terlontar dengan kagetnya.

“Mari, silahkan masuk om”

“Begini, sebaiknya kita ngobrol di rumah saya saja” kata pak RT menimpali.

“Boleh, boleh” sahut Yanuar.

*****

Yanuar, om Hasan dan om Murdi mengikuti ajakan pak RT untuk ngobrol di rumahnya. Setelah mereka duduk di ruang tamu, dengan waktu yang tidak begitu lama anak wanita pak RT keluar menyajikan teh manis dan penganan kecil.

Sesaat suasana hening.

Yanuar melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 2 malam.

Yanuar memandang wajah pak RT, wajah om Hasan dan wajah om Murdi, sepertinya wajah-wajah mereka dibuat dengan rona wajah setenang mungkin. Mereka semua diam, seakan mulut mereka semuanya terkunci.

Ada apa ini? Mengapa om Hasan dan om Murdi yang tidak pernah berkunjung ke tempatku kuliah dengan tiba-tiba, pada malam yang begini larut datang ke tempatku. Begitu juga dengan pak RT yang tidak pernah mengunjungiku koq datang bersamaan dengan om-omku. Mengapa untuk mengobrol harus ke rumah pak RT? Pasti ada sesuatu yang penting, tetapi apa ya? Mengapa saat ini mereka pada diam membisu?

Benak Yanuar dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang keluar dari suara hatinya.

*****

“Begini Yanuar” pak RT memulai membuka obrolan. “Kedua om mu ini datang ke rumahku menanyakan tempat kos kamu dan sekaligus mengantarkan mereka ke sini, mereka membawa kabar untuk kamu”

“Silahkan pak berbicara dengan nak Yuniar” pak RT mempersilahkan kedua om Yanuar untuk menyampaikan berita dari kampung.

Yanuar menghadapkan wajahnya ke arah kedua omnya.

“Yanuar …. bapakmu sekarang sedang sakit” terdengar suara om Hasan dengan lirih.

“Bapak sedang sakit? Ah …. masak om, kan tadi saya baru saja membaca suratnya yang mengabarkan bahwa bapak dan ibu serta keluarga lainnya dalam keadaan sehat wal a’fiat” suara Yanuar bernada kaget.

“Iya …. benar Yanuar, sakitnya tadi pagi, mendadak” sela om Murdi.

“Lalu ….. bagaimana keadaan sakitnya om …. parah ya”

“Sakit bapakmu tidak seberapa Yanuar, tetapi beliau minta untuk bertemu kamu, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepadamu, jadi kamu harus pulang ke kampung bersama kami” suara om Murdi masih terdengar lirih sambil matanya menatap Yanuar dengan sayu.

“Tapi ….. Yanuar dua hari di depan akan menghadapi ujian lisan dan sekarang sedang belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian lisan tersebut” sahut Yanuar.

“Iya …. tadi ibumu juga menyampaikan hal yang sama kepada kami, tapi bapakmu tetap minta bertemu dengan Yanuar, jadi sekarang kita pulang saja” kata om Hasan bernada mendesak.

Yanuar tertegun sesaat, seperti ada keraguan dalam dirinya.

“Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang juga om” kata Yanuar tegas

“Eh …. kamu kan masih pakai sarung dan itu …. bajumu, baju kaos oblong, ganti pakaian dulu dan bawa beberapa lembar pakaian untuk dipakai di kampung nanti”, pak RT ikut nimbrung pembicaraan.

“Tidak usah pak RT, kan katanya om sakitnya bapak saya tidak seberapa, jadi saya tidak berlama-lama di kampung, mungkin siang jam 2 saya harus kembali kesini, tidak usah menginap”

“Benar …. kata pak RT itu, ganti pakaian dan bawa beberapa lembar untuk ganti pakaianmu nanti di kampung” begitu kata om Hasan kepada Yanuar.

Yanuar mengikuti ucapan para orang tua yang berada di situ. Dengan tergesa-gesa Yanuar berganti pakaian dan mengambil beberapa potong pakaian lainnya, lalu dengan seadanya Yanuar memasukkan ke dalam tas punggungnya.

“Om …. tolong temani Yanuar untuk menemui bapak dosen yang nanti akan menguji Yanuar, memohon penundaan ujian lisannya karena Yanuar akan pulang kampung menjenguk bapak yang sedang sakit” pinta Yanuar kepada om-om nya.

“Oh iya …. om akan menemani kamu menemui dosen dimaksud” kata om Hasan.

*****

Yanuar dan kedua om nya berpamitan kepada pak RT untuk segera berangkat malam itu juga ke kampung. Yanuar bersalaman dan mencium tangan pak RT. Yanuar meminta didoakan agar selamat sampai di kampung dan meminta didoakan juga agar  sakitn bapakya segera sembuh. Pak RT menganggukkan kepalanya dan melepaskan kepergian Yanuar bersama om nya sampai di depan pintu pagar halaman.

“Baik-baik di kampung dan yang sabar ya nak Yanuar” suara pak RT terdengar berat.

“Iya pak, makasih pak” jawab Yanuar

“Eh …. kamu duluan sedikit ya Yanuar, om ada yang disampaikan dulu kepada pak RT” suara om Hasan terdengar dengan tiba-tiba.

“Eh …. iya om”

Dari kejauhan Yanuar memperhatikan gerak-gerik om Hasan dan pak RT sepertinya berbicara sangat serius. Kadang-kadang pak RT menganggukkan kepalanya dan melihat ke arah Yanuar.

Ada apa ya? Apa sih yang dibicarakan mereka? Mengapa pak RT kadang-kadang memandang ke arahku sambil menganggukkan kepala? Kembali pertanyaan-pertanyaan suara batin Yanuar memenuhi benaknya.

Setelah selesai berbicara dengan pak RT, om Hasan segera menyusul Yanuar dan om Murdi.

Mereka selanjutnya bertiga menemui dosen Yanuar yang akan melaksanakan ujian lisan. Sesampainya di rumah dosennya, Yanuar menyampaikan permohonan penundaan untuk ujian lisannya. Dosennya dapat mengerti dan memberikan kesempatan kepada Yanuar untuk mengikuti ujian lisan susulan nantinya.

Seperti juga dengan pak RT, om Hasan menyuruh Yanuar dan om Murdi berjalan duluan di depan. Sedangkan om Hasan berbicara berdua dengan dosennya Yanuar dengan gerak-gerik yang sama seperti ketika om Hasan berbicara dengan pak RT.

Lagi-lagi, pertanyaan demi pertanyaan memenuhi rongga kepala Yanuar. Aduuuh, ada apa ini?

*****

Mobil sedan Toyota Corolla DX melaju menembus kegelapan malam. Udara kemarau terasa begitu dingin. Jalanan lengang karena tidak begitu banyak kenderaan yang melintas. Tiga orang penumpang dan satu pengemudinya saling berdiam diri seakan terlarut dengan pikirannya masing-masing.

“Yanuar …. kamu tidur saja, om lihat Yanuar sangat lelah” suara om Murdi seperti berbisik ke arah Yanuar, memecah kebisuan orang-orang yang berada dalam mobil.

“Makasih om, Yanuar belum mengantuk, kalau om mau tidur saja” jawab Yanuar

“Ndak, om belum mengantuk juga, eh ….. bapakmu sering berpesan pada om agar Yanuar tekun dalam studi dan dia juga sering berceritera pada om bahwa dia sangat bangga dengan Yanuar. Dia menceriterakan bahwa Yanuar selalu menjadi juara kelas sejak dari SD sampai dengan SMA dan ketika kuliah sekarang Yanuar juga adalah salah satu dari mahasiswa yang mendapat beasiswa karena prestasimu yang gemilang di bangku perguruan tinggi.

“Bapak berceritera begitu sama om Murdi” kata Yanuar

“Iya, begitu bapakmu berceritera sama om Murdi”

Ada terbersit rasa gembira yang luar biasa di dalam hati Yanuar karena dia telah bisa memberikan rasa bangga pada orang tuanya.

“Namun demikian, bapakmu juga berpesan, Yanuar tidak hanya memiliki prestasi belajar yang gemilang, harus dibarengi juga dengan kemampuan memiliki kesabaran dan ketenangan yang tangguh, tidak egois, tidak sombong, tidak su’uzon pada orang lain, mampu menghargai kemampuan dan prestasi orang lain, punya tutur kata dan sikap yang santun”

“Iya om, Yanuar akan selalu mengingat pesan bapak itu dan insya Allah akan mewujudkannya dalam prikehidupan Yanuar.

“Betul Yanuar, kamu jangan seperti om yang sekolahnya tidak pernah selesai-selesai, ya, jadi beginilah jadinya …….. ?!

“Walah, om koq begitu, om ini kan pengusaha yang sukses, om terlampau merendah membuat Yanuar jadi malu”.

“He he heh heh”, om Murdi tertawa terkekeh.

Yanuar mencoba melihat ke kursi depan yang menjadi tempat duduknya om Hasan. Wow … ternyata om Hasan tertidur dengan lelapnya di samping mas pengemudi.

*****

Perjalanan Yanuar yang memakan waktu kurang lebih lima jam sudah hampir sampai di rumahnya. Entah mengapa om Murdi yang duduk di samping Yanuar semakin merapatkan posisi duduknya sehingga berdempetan dengan Yanuar, sambil tangannya memegang bahu Yanuar.

“Yanuar, kamu seorang lelaki, om yakin selain memiliki prestasi belajar yang cemerlang kamu juga seorang lelaki yang memiliki ketenangan yang luar biasa dan kesabaran yang tangguh” om Murdi berbisik di telinga Yanuar.

Yanuar diam, matanya lekat menatap jauh ke depan di keremangan subuh seolah-olah ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya.

Yanuar bingung bercampur kaget, koq rumahnya sangat terang benderang dengan cahaya lampu, orang-orang kampung koq pada banyak berkumpul di depan rumahnya. Yanuar gelisah.

Melihat Yanuar yang gelisah, om Murdi semakin erat memegang bahu Yanuar.

Ketika mobil berhenti tepat di depan rumah, Yanuar yang tadinya gelisah berubah, seluruh tubuhnya bergetar, bibirnya kelu dan kaku, pikirannya kacau. Bendera hijau yang tertancap di halaman rumah bertuliskan: Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun, membuat Yanuar sudah mendapatkan jawaban segala pertanyaan-pertanyaan yang sejak keberangkatan selalu memenuhi benaknya. Yaa Allah, bapakku meninggal, bapakku sekarang meninggal, bapakku sekarang meninggal. Itulah jawabannya yang terus bergaung di gendang telinganya.

Yanuar merasakan seluruh tubuhnya lunglai, tulang-belulangnya tidak mampu lagi menopang tubuhnya.

“Bapakku sekarang meninggal, hiks … hiks … hiks” gumam lirih dan tangis kecil Yanuar.

Seketika segalanya menjadi kabur dalam pandangan Yanuar. Yanuar tidak bisa mengkonsentrasikan dirinya siapa saja orang-orang yang berkumpul di depan rumahnya. Om Hasan dan om Murdi menjadi kabur dilihatnya.

“Tenang dan yang sabar ya!” suara om Hasan mencoba untuk menguatkan Yanuar yang oleng lahir dan batinnya.

Yanuar diam membisu dan masih terduduk mematung.

“Ayo Yanuar, kita turun” kata om Hasan sambil membuka pintu mobil.

Yanuar masih tetap diam mematung, tubuhnya sudah tidak punya tenaga lagi, perasaannya mengharu-biru, dadanya serasa pecah, pikirannya kacau-balau.

Om Murdi dan om Hasan memapah Yanuar turun dari mobil dan menggiringnya memasuki rumah. Ibunya Yanuar meraung menangis, menubruk dan memeluk Yanuar dan ikut menggiring Yanuar menuju kamar ayahnya yang sekarang terbaring, membujur dan kaku.

Yanuar tersungkur di samping tubuh ayahnya dan wajah tertelengkup dengan tangan memegangi pipi ayahnya. Airmatanya yang tadi sudah mulai menggenang kini tertumpah, terburai membasahi seluruh wajahnya. Tubuhnya bergetar keras. Yanuar sudah lupa dengan keadaan di sekitarnya.

Suasana seisi rumah hening, yang terdengar hanya suara tangisan pilu Yanuar dan isak tangis para keluarga. Orang-orang yang berada di sekitarnya membiarkan Yanuar menangis untuk memberikan kesempatan kepada Yanuar menumpahkan semua kesedihannya di samping tubuh ayahnya.

“Ayahku, ayahku, ayahku ….. huk huk huk huk, ayah bilang ayah sehat ….. koq ayah sekarang pergi meninggalkan Yanuar, Yanuar butuh ayah, Yanuar pengen berceritera tentang kuliah Yanuar kepada ayah, ayah kan seorang pendengar yang baik, ya yah ya, Yanuar belajar untuk kebanggaan ayah, tidak ada motivasi yang lain, dari sejak remaja sampai sampai sekarang jadi mahasiswa, Yanuar tidak ingin membagi cinta selain untuk ayah dan ibu, benar yah, huk huk huk ….. hiks hiks hiks” suara dan tangis Yanuar terdengar lirih, sungguh memilukan, sepertinya Yanuar berbicara dengan ayahnya masih hidup.

“Yanuar, sekarang kamu bacakan surah Yasiin untuk ayahmu” kata ibunya Yanuar dengan sangat pelan dan lembut. Kelembutan seorang ibu.

“Iya bu, tapi mata Yanuar tidak bisa melihat rangkaian huruf-hurufnya bu .. “ kata Yanuar.

“Ibu akan membimbing Yanuar untuk membacanya, Yanuar ikuti saja ya …. bacaan ibu”.

“Yaa … buuu ….. hiks hiks hiks”

“Yasiin, yasiiin, yasiin, wal qur’anil hakim, innaka la minal mursalin …..” ibu Yanuar membimbing Yanuar membacakan surah Yasiin.

Yanuar mengikuti apa yang dibacakan ibunya. Perasaan Yanuar melayang. Jiwanya berasa keluar dari tubuhnya.

Kedinginan subuh menjelang pagi penuh keheningan. Yanuar terlarut dalam pembacaan surah Yasiin untuk ayahnya. Kokok ayam mulai terdengar. Para kerabat dan tetangga sudah memulai kesibukannya mempersiapkan pemakaman ayah Yanuar.

*****

Pada pukul 2 siang jenazah ayah Yanuar di masukkan ke liang lahat. Ketika jenazah sudah dibaringkan di liang lahat, Yanuar yang memegang posisi kepala ayahnya dan sebagai ucapan perpisahan dia membisikkan kata-kata: ayahku …. ayah istirahat yang yang ya ayah, doa akan selalu Yanuar kirimkan untuk ayah, Yanuar akan tetap menjadi kebanggaan ayah, Yanuar nantinya akan membawa ijazah hasil belajar Yanuar dan dan juga Yanuar akan bawakan calon mantu untuk meminta persetujuan ayah, Allahu Akbar … ya Allah …. berikanlah dan tempatkanlah ayahku ditempat yang layak di sisiMu. Amin.

*****

Enam tahun kemudian di pusara ayah Yanuar duduk dengan khidmat sepasang orang muda. Seorang lelaki berkulit sawo matang dengan rambut keriting berombak dan seorang wanita dengan kulit putih bersih kekuning-kuningan dengan rambut sebatas bahu berwarna kuning kemarahan. Sepasang orang muda itu berdoa dengan khidmat di atas pusara ayah Yanuar. Selesai berdoa sepasang orang muda tersebut masih tetap duduk disana dan nampak mulut sang lelaki komat-kamit seperti orang yang berbicara:

Ayah ….. ini untuk yang ke sekian kali Yanuar datang di pusara ayah. Sekarang berkat kasih sayang ayah, Yanuar bawakan sesuatu yang akan menjadi kebanggaan ayah, ini ayahku (sambil tangan sang lelaki memperlihatkan selembar kertas) Yanuar  telah memperoleh ijazah sebagai seorang sarjana teknik mesin, dan ini (tangan sang lelaki menunjuk wanita yang berada di sebelahnya) Yanuar bawakan seorang wanita yang namanya  Lyra Auradianty yang bersedia menjadi mantu ayah, ayah bangga kan bahwa Yanuar sudah berhasil menjadi seorang sarjana teknik mesin, dan ayah setuju kan Lyra Auradianty ini menjadi mantu ayah, setuju kan yah.

Sesaat suasana menjadi begitu hening, angin semilir bertiup dengan lembut, daun-daun kering gugur beterbangan di atas lokasi pekuburan.

Tiba-tiba sang wanita terpekik, rupanya sang lelaki muda di sampingnya jatuh tertelungkup di pangkuannya.

*****

Keesokan harinya di samping pusara ayah Yanuar telah terdapat sebuah gundukan tanah baru dan banyak orang-orang berkumpul di sana termasuk Lyra Auradianty. Seorang lelaki nampak berdiri di tengah orang-orang yang berkumpul berkeliling, dia adalah om Murdi.

“Inna lillahi wan ilaihi ro’jiun …. pada hari ini telah kembali ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, anak, adik, keponakan, sahabat kami yang tercinta Yanuar bin Andre Iskandar. Atas nama keluarga, kami memohon pintu kemaafan dan keampunan atas segala kesalahan dan kehilafan yang pernah dilakukan oleh almarhum semasa hidup. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh handai taulan yang telah memberikan bantuan sehingga dapat terlaksanakanya pemakaman anak, adik, keponakan dan sahabat kami yang tercinta. Pada kesempatan ini sudilah kiranya para handai taulan memberikan doa semoga arwah almarhum Yanuar bin Andre Iskandar diterima oleh Allah SWT sesuai dengan amal perbuatannya di dunia dan juga doakanlah agar kami-kami sebagai keluarga yang ditinggalkan sabar dan tabah menghadapi cobaan ini. Terima kasih, wassalamualaikum warramatullahi wabarakatuh.

*****

Ketika orang-orang sudah pada beranjak meninggalkan tempat pemakaman, om Murdi dan Lyra Auradianty masih berdiri di sana. Dengan langkah perlahan Lyra Auradianty mendekati nisan yang bertuliskan Yanuar bin Andre Iskandar, dia bersimpuh dan tangannya mengusap nisan yang bertuliskan Yanuar bin Andre Iskandar tersebut dengan lembut. Meluncur dengan sendu kata-kata:

Abang Yanuar yang kucintai dan kusayangi ….. Lyra akan menjalani kehidupan di hari-hari mendatang tanpa abang Yanuar, begitu singkat perkenalan dan pertemuan kita, benang yang kita rajut belumlah sempat menjadi kain, bunga indah yang kuncup belum sempat menjadi mekar, abang Yanuar …. dengan perkenalan dan pertemuan yang singkat, abang Yuniar telah memberikan pelajaran tentang apa arti cinta dan perjuangan hidup. Terima kasih ya abang Yanuar. Beristirahat dalam damai ya abang Yanuar. Tetes demi tetes, air mata Lyra berkilat bening membasahi pipinya yang putih.

Lembayung petang mulai memancarkan cahaya rona merahnya di ufuk barat pertanda malam akan segera menutup siang. Kepak-kepak sayap burung bangau putih yang berayun syahdu yang terbang melintas di atas angkasa pulang menuju sarangnya. Desiran sang bayu menimbulkan bunyi gemerisik dedaunan bagaikan melodi yang mengalunkan nada-nada sendu.

Om Murdi dan Lyra Auradianty berjalan beriringan meninggalkan pusara Yanuar.

******** tamat ************

 

KUNTUM BUNGA YANG INDAH DI BALAI BARINGAN Mei 30, 2009

Diarsipkan di bawah: Fiksi — hairiyadi @ 11:37 am

Ditulis oleh: Hairiyadi

 

Mataku sangat mengantuk sekali, celoteh teman-teman sedikit demi sedikit mulai terdengar sayup-sayup di telingaku dan akhirnya menghilang, aku tidak tahu lagi berapa lama aku ketiduran. Rupanya terlalu duduk di lama mobil dengan terpaan angin yang masuk lewat jendela membuat diriku merasa lelah dan secara alami mengantarku ke dunia mimpi.

(lagi…)

 

CINTA YANG PUDAR BERSINAR KEMBALI (4) Mei 21, 2009

Diarsipkan di bawah: Fiksi — hairiyadi @ 4:07 pm

Ditulis oleh: Hairiyadi

(Nama-nama, tempat, peristiwa dan ceritera cuma rekaan penulis)

 

 

Pak Aryo memberikan kesempatan kepada Leny untuk larut dalam perasaan kesendiriannya, perasaan jauh dari keluarga, tiada tempat untuk berbagi duka dan berbagi suka, di saat yang sama Leny mencoba berbagi perasaan kesendirian itu dengan sosok yang dipandangnya sebagai jelmaan orang dekat yang mau mengerti kegundahan yang selama ini terpendam dalam dirinya. (lagi…)

 

KISAH KAI SU’RAUP MAKAN SATE Mei 17, 2009

Diarsipkan di bawah: Fiksi — hairiyadi @ 3:20 am

Ditulis oleh: Hairiyadi

Kisah dalam bahasa Banjar Pahuluan

 

“Umaialah kai, imbah julak Su’raup nitu kasakitan, hamuklah sidin wan pian kai haji”, jar bubuhan kami sambil tatawaan. “Nyata haja ah” ,jar kai haji Uncul, diragapnya aku, imbah tu di igutnya talingaku bahimat”. “Naham ! badarahanai talinga pian lah kai haji”, jar kami. (lagi…)

 

KISAH SU’RAUP, ACIL RAUPIQAH, UTUH ASBAK WAN UTUH PA’ASIAN Mei 16, 2009

Diarsipkan di bawah: Fiksi — hairiyadi @ 2:12 am

Ditulis oleh: Hairiyadi

(Kisah dalam bahasa ‘Banjar Pahuluan’ memenuhi permintaan calon pendeta Sufian Akbar)

 

Tuturan urang bahari nang rancak dikisahakan wan kakanakan atawa wan urang nang a’anuman banyak baisi palajaran sabagai cuntuh kahidupan. Kabanyakan ujar urang wayahini ba”tema”kan  sikap parilaku kita dalam manjalani kahidupan. Nilai nang disampaikan adalah “nilai-nilai nang dikatujui” wan “nilai-nilai nang dianggap “maniniwah” atawa “palalaiannya” pada urang banyak.

(lagi…)

 

DOSEN KELAS: OBROLAN WARUNG KOPI Mei 15, 2009

Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — hairiyadi @ 3:27 pm

Sehabis memberi kuliah di kampus. saya mempunyai kebiasaan yang susah ditinggalkan, yakni memberikan revitalisasi fisik dan batin dengan meminum secangkir kopi. (lagi…)