<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hairiyadi's Weblog</title>
	<atom:link href="http://hairiyadi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hairiyadi.wordpress.com</link>
	<description>HIDUP ADALAH PERJUANGAN</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2009 12:03:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hairiyadi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/672fddaae236af9e031bb91f58e0d5ee?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Hairiyadi's Weblog</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hairiyadi.wordpress.com/osd.xml" title="Hairiyadi&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hairiyadi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>HATI YANG AMANAH (TAMAT)</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/23/hati-yang-amanah-tamat/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/23/hati-yang-amanah-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 12:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya Pancaran sang penguasa cahaya secara perlahan mulai meredup terhalang oleh gumpalan-gumpalan awan bak jelaga yang bergerak menggerombol rendah mengombak diantara bumi dan langit. Warna biru yang menghampar sebatas cakrawala tersapu oleh warna mengabu terhimpun menyatu bagaikan raksasa mengangkang angkasa. Tiupan Batara Bayu memperdengarkan bunyi mendesir, berdesau dan mendengung secara bergantian tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=140&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya</p>
<p style="text-align:justify;">Pancaran sang penguasa cahaya secara perlahan mulai meredup terhalang oleh gumpalan-gumpalan awan bak jelaga yang bergerak menggerombol rendah mengombak diantara bumi dan langit. Warna biru yang menghampar sebatas cakrawala tersapu oleh warna mengabu terhimpun menyatu bagaikan raksasa mengangkang angkasa. Tiupan Batara Bayu memperdengarkan bunyi mendesir, berdesau dan mendengung secara bergantian tanpa jeda, tanpa irama, menggoyang dahan, ranting serta meliuk-liukkan pucuk-pucuk daun pepohonan. Serpihan-serpihan kapuk yang keluar dari buahnya yang sudah mengering dan merekah, beterbangan mengayun mengikuti gelombang tiupan Batara Bayu  membentuk titik-titik putih diantara rona gumpalan-gumpalan awan yang menghitam. Hawa dingin mulai menyeruak dan menerpa pemukiman yang sepi. Hawa yang dingin juga menyelusup kedalam pondok dimana Annur, ibunya dan Lyra Auradianty yang sedang dilanda kesedihan terbawa oleh sapuan sang bayu.</p>
<p style="text-align:justify;">Batin Lyra Auradianty yang terbawa oleh hempasan dari pemandangan yang mengiris relung-relung hatinya mengumbar ribuan rasa berkecamuk menerawang kehidupan Annur bersama ibunya. Apakah pemandangan yang dilihatnya merupakan wujud dari lingkaran pemahaman tentang kesehatan dan penyakit berasal dari sebuah keyakinan bahwa segalanya merupakan bentuk kehendak sang maha dalang karena ulah manusia sendiri yang memainkan lakonnya tidak selaras dengan harmoni alam. Apakah kemiskinan difahami sebagai sesuatu yang harus diterima tanpa ada hak untuk mengubahnya. Kalau begitu, inikah bentuk dari tindakan yang manusia yang dianggap bertentangan dengan keselarasan alam dan inikah bentuk dari sikap pasrah yang diyakini oleh mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Lyra Auradianty mengeluarkan stateskop dan alat pengukur tekanan darah dari dalam tasnya, sebagai manusia biasa walaupun dia seorang dokter, tak urung tangannya bergetar halus yang nampak dari goyangan alat-alat yang terpegang di tangannya. Dia berusaha dengan keras untuk menguasai perasaannya, perlahan namun terlatih dperiksanya kondisi ibu Annur, sungguh memprihatinkan, tubuh kurus, kulit mengering dan mata yang meredup telah mengidap penyakit kekurangan gizi yang parah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lyra Auradianty meletakkan tangan ibunya Annur di pangkuannya, mata yang redup berpendar di dalam rongga mata yang cekung, kosong memandang ke atas, ke atap pondok yang compang-camping sehingga seolah-olah memberikan ruang untuk lintasan cahaya berbentuk garis-garis lurus mengisi ruangan dalam pondok. Tarikan napas yang berat dan bunyi desis yang halus keluar dari mulut Lyra Auradianty, seakan dia berusaha untuk melepaskan beban berat yang menghimpit dadanya. Dengan rona muka yang dibuat setenang mungkin, Lyra Auradianty memandang Annur dan melambai memberi isyarat untuk mendekat kepadanya. Dipegangnya pundak Annur sambil mendekatkan wajahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Annur, saya kira ibumu ini kita bawa saja ke rumah saya ya &#8230;. ?  Supaya nantinya saya lebih leluasa memberikan perawatan.” sembari mata Lyra Auradianty memandang mata Annur, jauh menerobos sampai ke relung hati Annur yang terdalam. Annur menundukkan wajahnya, degup jantungnya bergerak dengan cepat, wajahnya berubah pucat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apakah penyakit ibu saya parah ? Dan kalau harus dirawat oleh ibu dokter, bagaimana kami harus membayar biaya perawatan itu?” suara Annur bagaikan sayup-sayup terdengar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, penyakit ibumu tidaklah terlampau parah, hanya untuk saat ini ibumu butuh perawatan dari seorang dokter. Annur tidak usah memikirkan soal biaya perawatan, semuanya tanggung jawab saya.” Suara Lyra Auradianty terdengar tegas dan meyakinkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Gumpalan-gumpalan awan bertambah hitam dan memekat. Gerakannya bertambah cepat seolah-olah ingin menutup bentangan langit. Seekor elang terbang melintas dengan kepakan sayap mengibas suara dengungan tiupan sang bayu yang berdesau ditingkahi oleh suara burung <em>‘kacicirak’</em> yang nyaring dengan nada berirama memoles desauan suara sang bayu. Dua ekor katak hijau melompat-lompat berkejaran di hamparan daun-daun teratai kemudian menghilang di rumpunan tumbuhan eceng gondok. Pancaran sang penguasa cahaya mulai tampak memerah bergerak lambat menempel pada tiga per empat batas cakrawala.</p>
<p style="text-align:justify;">Lyra Auradianty membereskan semua peralatannya dan Annur mengambil beberapa potong sarung dan baju ibunya yang sudah lusuh dan berumur tua, dimasukkannya ke dalam kantongan plastik. Selanjutnya mereka berdua bersiap-siap untuk mengangkat tubuh ibunya Annur untuk diturunkan dari pondok dan dimasukkan ke dalam perahu. Mereka terkejut &#8230; mata ibunya Annur terbuka tanpa berkedip, mulutnya setengah terbuka, warna memucat semakin nyata, dadanya bergerak tak beraturan. Lyra Auradianty dengan segera memegang pergelangan tangan ibunya Annur, penuh perhatian, penuh konsentrasi, sedangkan Annur sendiri duduk terpaku, bingung, khawatir menyatu dalam hatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Suara tiupan tambah berdesau, hempasannya semakin menguat, pintu pondok yang tanpa engsel nampak bergerak-gerak, beberapa potong atap terlepas, terbang menjauh kemudian terlempar, menukik menyentuh ranting pohon galam dan menggeletak di atas pusaran air.</p>
<p style="text-align:justify;">Napas ibunya Annur nampak semakin memburu, tubuhnya bergetar hebat, rona memucat sudah memenuhi seluruh tubuh, dengan satu tarikan napas yang kuat dalam hitungan detik tubuh ibunya Annur telah berubah menjadi sekujur tubuh yang kaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun” terdengar suara Lyra Auradianty dan Annur yang hampir bersamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesaat Annur memandangi wajah ibunya, dengan perlahan wajahnya menelungkup pada dada ibunya, genangan bulir-bulir kristal putih membasahi sarung penutup tubuh ibunya, tangan kanan Annur mengusap wajah ibunya sambil menelusuri tiap lekukan yang terdapat di wajah tersebut, seolah-olah Annur ingin membawa semua sentuhan tangannya ke dalam jiwanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lyra Auradianty terduduk bagaikan patung tanpa roh, jiwanya kosong melayang-layang ikut terlarut bersama desauan angin, kadang terangguk laksana pucuk-pucuk daun galam yang lemah tak berdaya. Seekor anak kucing nampak duduk di sudut dinding pondok, matanya memandang apa yang ada di hadapannya, telinganya bergerak-gerak menepis nyamuk-nyamuk yang berseliweran di dekatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Begitulah om ceritera pertemuan saya dengan Annur” kata Lyra Auradianty.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hhhhhh &#8230;.” terdengar desahan tarikan napas om Murdi. “Sungguh, pertemuan yang tragis” kata om Murdi pendek.</p>
<p style="text-align:justify;">“Annur anak yang rajin dan berbudi walaupun prestasi belajarnya di sekolah biasa-biasa saja, namun masih terngiang apa yang pernah diutarakan oleh almarhum Yanuar pada saya, bangsa ini tidak kekurangan memiliki anak-anak bangsa yang cerdas dan berprestasi gemilang, tetapi tidak banyak memiliki anak-anak yang rajin dan berbudi. Banyak pemimpin-peminpin yang dilahirkan dengan kecerdasan dan segudang prestasi gemilang, tetapi bangsa ini lebih membutuhkan tidak hanya pemimpin yang cerdas dan berprestasi gemilang tetapi lebih dari itu PEMIMPIN YANG BERBUDI.” kata Lyra Auradianty.</p>
<p style="text-align:justify;">Om Murdi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap dagunya. “Jadi apa yang dilakukan oleh Lyra ini merupakan usaha untuk mewujudkan apa yang telah dikatakan oleh almarhum Yanuar dengan kata lain wujud sebuah amanah?” sela om Murdi.</p>
<p style="text-align:justify;">Lyra Auradianty mengangguk halus sambil matanya memandang ke halaman rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Empat ekor kupu-kupu pancawarna beterbangan diantara kumbang-kumbang pengisap madu, seekor kupu-kupu itu hingga di kuntum bunga matahari, terayun-ayun di situ sambil sayapnya menyapu dengan kibasan lembut membentuk bauran warna di latar bunga matahari yang merah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*** tamat ***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=140&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/23/hati-yang-amanah-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HATI YANG AMANAH (PART 2)</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/16/hati-yang-amanah-part-2/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/16/hati-yang-amanah-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 11:20:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya Pohon-pohon galam tumbuh laksana hamparan permadani hijau yang memenuhi bentangan rawa yang luas. Warna kulit batangnya yang kuning ke putih-putihan memberikan sapuan ditengah rentang kehijauan dedaunan yang merimbun. Di ranting-ranting pepohonan galam itu bertengger kerumunan kelompok burung bangau putih yang matanya selalu awas memperhatikan ikan-ikan yang siap untuk dimangsanya. Beberapa diantaranya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=136&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pohon-pohon galam tumbuh laksana hamparan permadani hijau yang memenuhi bentangan rawa yang luas. Warna kulit batangnya yang kuning ke putih-putihan memberikan sapuan ditengah rentang kehijauan dedaunan yang merimbun. Di ranting-ranting pepohonan galam itu bertengger kerumunan kelompok burung bangau putih yang matanya selalu awas memperhatikan ikan-ikan yang siap untuk dimangsanya. Beberapa diantaranya sedang asyik menelisik sela-sela sayap dengan paruhnya yang panjang. Bulu-bulu putihnya beterbangan kian-kemari, ringan bagaikan kapas, turun-naik bergelombang tertiup angin. Diantara pohon-pohon perdu air beberapa burung ‘binti’ diam bagaikan boneka kayu yang tertancap pada ranting pohon, bulu sayap yang berwarna hijau kehitaman dengan bulu dada kecoklatan, paruh berwarna merah dan mahkota yang berwarna kuning nampak indah bagaikan rangkaian warna mutu manikam. Dia terkenal sebagai burung yang penyabar, sabar dalam mengais rezeki peyambung kehidupannya. Monyet-monyet bergayutan, terayun dan kemudian melompat-lompat dari ranting ke ranting, dari satu pohon ke pohon yang lain.<br />
Langit cerah membiru. Gumpalan awan putih bergerak perlahan-lahan. Bentuknya selalu berubah-ubah. Sekali waktu gumpalan yang satu menggabung menyatu dengan gumpalan awan yang lain, pada ketika yang lain satu gumpulan memecah menjadi beberapa gumpalan kecil, terus begerak dan terus berubah. Ada suatu saat mereka saling mendekati dan pada suatu saat yang mereka saling menjauhi, terus menjauh sampai hilang dari penglihatan mata.<br />
Tumbuhan teratai sedang musim berbunga. Tangkainya yang panjang menyembul dari piringan daunnya yang lebar, bersegi berwarna hijau. Kelopak bunganya sedang membuka berbentuk helaian-helaian. Beberapa kelompok teratai memperlihatkan helaian kelopak bunga yang berwarna putih dan di kelompok lainnya berwarna merah muda. Serombongan serangga kecil kecil bersayap sedang sibuk mengerumuni putik bunga-bunga teratai itu. Burung-burung belibis berenang menyeruak diantara tumbuhan teratai, dengan tangkas beberapa diantaranya menyeluruk ke dalam air dan kemudian dengan sigapnya terbang mengangkasa.<br />
Dari kejauhan pandangan mata terhampar semacam pemukiman yang berdiri di atas bentangan rawa yang luas. Usapan sinar mentari memberikan penjelasan serba terbatas tentang pemukiman itu. Setelah agak dekat, nampak bahwa di situ adalah himpunan pondok-pondok tempat penghuninya bertempat tinggal. Pondok-pondok itu dibangun dengan bahan bangunan utama dari kayu galam, dindingnya pun dari bahan kulit kayu galam juga, beratap rumbia dan berlantai bambu yang disusun berjajar. Tidak nampak para penghuninya, hanya terdengar sayup-sayup di pendengaran telinga sebuah lagu dangdut ‘Menunggu’ yang dinyanyikan oleh Ridho Rhoma. Sebuah pemukiman yang nyaris sepi.<br />
Haluan perahu yang dikemudikan Annur mengarah pada salah satu pondok yang letaknya agak berjauhan diantara pondok-pondok lainnya, sebuah pondok dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar 3 meter, mempunyai satu pintu dan satu jendela. Dindingnya sudah banyak yang terlepas sehingga disana-sini kelihatan lubang-lubang bagaikan bidang datar yang bopeng-bopeng. Begitu pun juga atapnya tidak lebih baik dari dindingnya, sudah sangat tua dan usang. Sudah pasti apabila diterpa oleh turunnya hujan yang sangat deras maka air akan masuk dengan leluasa ke dalam pondok. Tanpa halaman, sekelilingnya hanya air.<br />
Dengan perlahan-lahan perahu mendekati salah satu tiang dari tangga naik ke atas pondok. Perahu diposisikan secara melintang dan salah satu bagian dindingnya didempetkan pada salah satu anak tangga. Annur meminta permisi untuk melintas di depan Lyra Auradianty sambil membungkukkan badannya menuju ke arah haluan. Dengan berjalan secara hati-hati agar perahu tidak oleng karena gerakannya. Sesampai di haluan diambil tali penambat perahu, diikatkannya dengan kuat pada salah satu tiang tangga naik. Uppsss &#8230; kaki Annur  menjejak ke atas anak tangga.<br />
“Mari bu dokter &#8230; inilah pondok tempat tinggal kami, semoga bu dokter tidak risi singgah di sini” kata Annur sambil mengulurkan tangan kecilnya untuk membantu Lyra Auradianty naik ke atas dari dalam perahu yang ditumpanginya. Lyra Auradianty naik ke atas dengan tangan kanannya berpegangan pada tangan Annur, sedangkan tangan kirinya memegang pagar tangga. Annur berada di depan mendahului Lyra Auradianty ketika menuju pintu pondok yang tertutup tidak terlalu rapat. Pintu pondok ternyata tidak bersatu dengan dinding dengan rekatan sepasang engsel tetapi hanya disandarkan saja seadanya.<br />
“Ibu &#8230; ini Annur sudah datang” kata Annur, kemudian tangannya ke arah Lyra Auradianty. “Dan ini ibu dokter Lyra Auradianty yang ingin berkunjung ke pondok kita ini.”<br />
Dengan sapuan matanya, nampak oleh Lyra Auradianty seorang ibu yang sedang hamil tergolek lemah di atas kasur. Kasur usang dan sudah tua termakan usia, isi kapuknya sudah sangat tipis, benang jahitan pada kain pembungkusnya sudah banyak yang terlepas. Alas kasurnya, sarung batik yang sudah lusuh dan banyak sobekan di sana-sini. Sarung batik itu pun tidaklah mampu menutupi seluruh bidang kasur. Bantalnya pun tipis, sudah usang dan tua pula, tanpa sarung. Secara sekilas terlihat banyak bercak-bercak yang memenuhi bantal itu. Bercak-bercak dari tumpuhan airmata yang sudah mengering. Ibu Annur yang sedang hamil tergolek di atas kasur itu, badannya sudah kurus, kulit tubuh dan bibir mengering, matanya kuyu hampir menyipit membentang bagaikan sebuah garis tebal yang lurus, rambut tergerai acak-acakan tak terurus. Lurus sejajar dengan hunjuran kaki berjarak kurang lebih 50 centimeter terdapat sebuah dapur tanah berisikan potongan-potongan kayu galam yang baranya masih menyala, asap yang tipis menyebar mengisi seluruh ruang pondok. Dekat kepala di samping sebelah kiri sebuah cerek dan cangkir aluminium teronggok bagaikan penunggu setia ibu Annur yang terbaring lemah.<br />
Annur dan Lyra Auradianty melangkah secara perlahan menghampiri tubuh kurus terkulai yang hanya tinggal daging pembalut tulang. Annur duduk di samping kiri ibunya dan Lyra Auradianty di sebelah kanannya. Dengan tangan kanannya Lyra Auradianty menyalami ibu Annur. “Ibu, saya Lyra Auradianty, temannya Annur, saya bertemu dengannya dan kemudian saya mengajaknya untuk berkunjung ke rumah ibu ini.” Mata ibu Annur menatap sendu dan kuyu ke arah Lyra Auradianty, tangannya yang bersalaman terasa dingin dan bergetar. Bibirnya yang terkatup terbuka dengan berat dan perlahan mengucapkan kata yang hampir tak terdengar: “te &#8230; te &#8230; rima kaa&#8230;sih, ibu &#8230; baaa..ik sekali,” katanya pendek. Mendengar suara dan melihat kondisi fisik ibu Annur, terasa sesak yang menggumpal-gumpal dalam dada Lyra Auradianty, lehernya bagaikan tercekik, lidahnya kelu, lunglai tulang-belulangnya bagikan tak mampu menahan tubuhnya. Apa yang bisa diperbuat oleh Annur dalam kondisi ibunya yang demikian? Adakah harapan-harapan yang bisa tumbuh dalam jiwa ibunya Annur dengan segala kepapaannya? Adakah keinginan yang ditumpukan pada Annur seandainya Tuhan menjemputnya? Beribu pertanyaan memenuhi kepala Lyra Auradianty. Sesaat dirinya serasa melayang, pandangannya kosong menatap tubuh ibunya Annur. Sungguh perasaannya sangat trenyuh. Annur terdiam, begitu juga Lyra Auradianty. Suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara dua ekor cecak yang berkejaran memperebutkan mangsa seekor capung kecil yang kebetulan terbang melintas di dekatnya., suara <em>tretek &#8230; tek &#8230; tek</em> kecil mengisi kesunyian. Di luar pondok terdengar suara elang bondol menggelombang terbawa angin yang bertiup semilir, meliuk, meyusup ke sela-sela pepohonan galam, mengiris pilu hingga mengisi relung hati Lyra Auradianty yang terpaku sedih, duduk bersimpuh di depan tubuh ibunya Annur. Annur memandangi ibunya, sebaris putih bening mulai mengabur dimatanya, menyusup menjadi titik-titik di pelupuk dan bulu matanya, kemudian berliku-liku dipipi menyatu dan bergantung didagunya, akhirnya jatuh dan meghilang di sela-sela lantai bambu.</p>
<p style="text-align:justify;">***bersambung***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=136&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/16/hati-yang-amanah-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NAMAKU DAN NAMAMU, KENANGAN ITU (HABIS)</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/11/namaku-dan-namamu-kenangan-itu-habis/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/11/namaku-dan-namamu-kenangan-itu-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 23:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya Matahari bergerak dengan perlahan ke arah barat, cahayanya berpendar  dengan memancarkan warna merah keperak-perakkan. Bayangan pepohonan yang tertimpa oleh cahaya matahari itu semakin memanjang. Tiupan sang bayu menggoyang-goyang rumpun-rumpun bambu dengan menimbulkan bunyi gemerisik, berdesir ditingkahi oleh irama nyanyian burung kutilang yang terbang dan meloncat dari satu pohon ke pohon yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=130&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari bergerak dengan perlahan ke arah barat, cahayanya berpendar  dengan memancarkan warna merah keperak-perakkan. Bayangan pepohonan yang tertimpa oleh cahaya matahari itu semakin memanjang. Tiupan sang bayu menggoyang-goyang rumpun-rumpun bambu dengan menimbulkan bunyi gemerisik, berdesir ditingkahi oleh irama nyanyian burung kutilang yang terbang dan meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain.<span id="more-130"></span> Dua ekor bajing saling berkejaran dengan lincahnya yang kadang-kadang meniti pelepah daun kelapa sambil mengangkat kedua kaki depannya. Burung-burung bangau putih terbang beriringan meninggi di angkasa untuk pulang ke sarangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sorot mata Agung Perkasa nanap lekat memandangi guratan tulisan di batang pohon ketapang, wajah Riana Indah Dewi semakin jelas dalam kenangannya. Wajah yang selalu ada di hatinya. Wajah yang sendu keibuan. Wajah sendu keibuan itulah juga yang dimiliki oleh ibunda Agung Perkasa. Wajah yang selalu dirindukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Riana, kamu wanita yang sudah mendapatkan semuanya dalam hidupmu. Tetapi aku &#8230; aku Agung Perkasa telah banyak kehilangan &#8230; yah kehilangan! Kehilangan dirimu, kehilangan cintamu, dan ini &#8230; (Agung menunjuk ke arah kakinya), salah satu kakiku telah hilang juga, karena kecelakaan. Hidupku sekarang bergantung pada tongkat penopang tubuhku ini.” Agung berkata dengan lirih, hampir tak terdengar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan Agung kuyu menatap kupu-kupu yang berterbangan di kuntum-kuntum bunga matahari. Kupu-kupu itu hinggap dari satu kuntum bunga ke kuntum bunga yang lain. Ketika kupu-kupu itu asyik mengisap sari bunga yang dihinggapinya, tangkai bunga berayun perlahan dan kupu-kupu itu bergayut indah mengimbangi ayunan tangkai bunga yang dihinggapinya. Kumbang-kumbang pengisap sari bunga terbang dengan memperdengarkan bunyi dengungan bagaikan irama nada-nada syahdu.</p>
<p style="text-align:justify;">Agung memegangi tongkat kayu yang menjadi penopang tubuhnya, diusapnya dengan lembut tongkat itu. Debu-debu yang melekat dikibaskannya dengan halus. “Engkaulah kini yang paling setia, engkaulah yang selalu menemani hari-hariku”, suara Agung di dalam hati. Seekor bajing kecil berdiri dengan kedua kaki belakangnya memandanginya seperti mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Agung. Di sela-sela rerumputan sesekor katak hijau melompat-lompat dan kemudian menghilang di bawah tumpukan tumpukan pelepah kelapa yang telah membusuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari semakin condong ke arah barat, rembang petang semakin memerah, batas cakrawala bertambah nyata,suara belalang dan jangkrik saling berpacu tingkah meningkahi. Tiupan angin petang menjelang malam menghembuskan rasa dingin. Daun-daun rerumputan puteri malu mulai menutup.</p>
<p style="text-align:justify;">Agung mengumpulkan segenap tenaganya untuk berdiri. Tangannya memegang dengan kuat tongkat penopang tubuhnya. Dia berusaha untuk tegak. Secara perlahan dia mendekati pohon ketapang. Diusapnya guratan tulisan yang masih terpampang disitu. Jari-jemarinya menyusuri setiap guratan. Wajahnya kemudian menunduk, terdengar desisnya: “namaku dan namamu hanya sebuah kenangan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Agung membalikkan badannya kemudian berjalan dengan tertatih-tatih. Terdengar bunyi &#8220;<em>tik-tuk&#8221;</em> dari tongkat kayu yang menyentuh tanah. Kain celana kaki sebelah kanannya berayun tertiup angin mengibas rerumputan yang disapunya. Kadang-kadang tubuhnya oleng apabila melintas pada tanah yang bergelombang. Hari semakin gelap, tubuh Agung semakin kabur dan kemudian menghilang di sebuah tikungan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=130&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/11/namaku-dan-namamu-kenangan-itu-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NAMAKU DAN NAMAMU, KENANGAN ITU (CERPEN)</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/04/namaku-dan-namamu-kenangan-itu-cerpen/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/04/namaku-dan-namamu-kenangan-itu-cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 09:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya Semuanya sudah berubah. Dulu, disini kebun singkong. Kebun singkong yang luas, dibawahnya menghampar tanaman ketela rambat dan tanaman kacang tanah. Karena itu warna hijaunya daun mendominasi sampai batas-batas pemandangan mata. Beberapa pohon manggis tumbuh menyeruak menempatkan dirinya lebih tinggi dari tanaman singkong. Sungguh menarik ketika di sapu dengan penglihatan mata, dedaunannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=126&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Penulis: Hairiyadi Kelana Budaya</p>
<p style="text-align:justify;">Semuanya sudah berubah. Dulu, disini kebun singkong. Kebun singkong yang luas, dibawahnya menghampar tanaman ketela rambat dan tanaman kacang tanah. Karena itu warna hijaunya daun mendominasi sampai batas-batas pemandangan mata.<span id="more-126"></span> Beberapa pohon manggis tumbuh menyeruak menempatkan dirinya lebih tinggi dari tanaman singkong. Sungguh menarik ketika di sapu dengan penglihatan mata, dedaunannya yang sedikit lebar dan membulat ditingkahi dengan buahnya yang juga bulat dengan warna merah kehitaman. Rumpunan pohon kelapa menjuai tinggi, berbatang kurus, pelepah dan daun yang tidak merimbun tetapi berbuah lebat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang &#8230; di lahan ini berdiri bangunan Sekolah Dasar lengkap dengan lapangan olahraga dan perumahan untuk guru-gurunya. Beberapa rumah-rumah yang semi permanen milik penduduk juga berdiri tidak berapa jauh dari kompleks sekolah telah menggantikan pondok-pondok beratap daum rumbia berdindingkan anyaman bambu berlantaikan belahan batang pinang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari matahari terbit membentang persawahan yang dibuat berpetak-petak dengan galangan sebagai pembatas pada setiap petakan. Pada galangan itu tumbuh rerumputan <em>banta</em> yang berwarna hijau, begitu elok bak pigura pembingkai foto.</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu &#8230; ditengah kebun ketela ini melintas jalan setapak yang merupakan penghubung antara desa dengan persawahan, di tepinya sebelah selatan tumbuh pohon ketapang berdaun rindang dengan batangnya yang besar dan nampak gagah perkasa. Disini &#8230; di tempat aku duduk sekarang dengan beralaskan daun pisang kering, jalan setapak itu masih ada, pohon ketapang itu pun masih ada, semakin bertambah tinggi, bertambah besar, bertambah rimbun dan &#8230; ahh &#8230; tulisan itu &#8230; AGUNG PERKASA DAN RIANA INDAH DEWI, tulisan yang diberi tepi dengan gambar hati. Tulisan itu masih tergurat, melekat abadi pada batang pohon ketapang yang tentunya semakin menua.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua puluh lima tahun &#8230; yah &#8230; dua puluh lima tahun, bukan waktu yang pendek, sungguh, bukan yang waktu yang pendek. Namun &#8230; tulisan itu, serasa baru kemaren, di sore indah yang sama, sekarang aku juga duduk dengan alas yang sama seperti dua puluh lima tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan mataku menyusuri jalan kecil nan setapak dari penghujung jalan masuk, pelan-pelan, ke tempat aku duduk, kupalingkan wajah mengikuti pandangan mataku hingga meluas ke hamparan sawah yang membentang dengan bulir-bulir padi yang menguning, daun-daunnya yang meruncing melambai-lambai, batangnya mengangguk-angguk tertiup angin kemarau ditingkahi dengan cericitnya burung-burung pipit bagaikan bercanda dengan rianya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kupalingkan kembali wajahku ke batang pohon ketapang, kutatap lekat tulisan dua puluh lima tahun yang lalu itu, hhmm &#8230; aku mendesah dan tersenyum sendiri. Kemudian kutundukkan wajahku ke tanah, tanah dimana dulu kita duduk berdua, berdampingan, tanganku bertumpu pada lutut. Di tanah itu ada wajahmu, nampak jelas, jelas sekali, rambutmu yang panjang dan hitam diikat kepang dua menjulur di bahumu, gerak bibirmu berbicara dan tersenyum, gaya tanganmu memberi tekanan pada setiap ucapan yang kamu anggap penting, warna suaramu yang khas dimana aku dapat membedakannya dengan wanita yang lain. Kamu emang tukang bicara yang handal, isi pembicaraanmu memikat, gaya bicaramu sangat aku suka. Kamu juga orang yang suka gemas, sudah tak terhitung lagi tangan dan hidungku yang besar dan macung ini kau cubiti karena kamu kesal padaku. Yah &#8230; kamu sering kesal denganku, itu karena aku hanya mengumbar senyum, melepaskan pandangan mataku dengan nanap ke dalam matamu tetapi mulutku hanya terdiam mendengarkan apa yang kamu bicarakan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo dong kak Agung, tanggapi pembicaraanku, masa kakak cuma menjadi pendengar yang baik dan hanya menjadi tukang senyum. Adik sudah cape, gantian bicaranya kak &#8230;?!” kata Riana pada suatu ketika sambil mencubit hidungku. Hidungku memang selalu menjadi sasaran cubitan Riana dalam kegemasan dan kekesalannya padaku. Katanya dia suka hidungku, haaa &#8230;.! Seperti biasanya, aku hanya mengumbar senyum dan tatapan mataku yang dalam ke matanya Atau, paling-paling aku membalas cubitannya dengan menekan-nekan alis matanya. Alis matanya yang tebal dan hitam bagaikan semut beriring kata peribahasa. Yah &#8230; aku sangat suka dengan alis matamu &#8230; haaa &#8230;. ! Kalau ku tekan-tekan alis matamu, kamu semakin keras mencubiti hidungku dan terus merajalela hingga ke kedua tanganku. Aku mengerang kesakitan, mengeliat-ngeliat menghindari cubitan demi cubitannmu. Kalau kamu sudah puas melampiaskan kegemasanmu padaku, namun masih menyimpan kekesalan di hatimu kepadaku, kamu akan bersungut-sungut, kau tundukkan wajahmu dengan mimik masam merengut, tanganmu mengais-gais di tanah dengan ranting kayu yang kecil atau tanganmu dengan gemasnya mencabuti rumput-rumput kecil yang ada di sekitarmu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Riana &#8230; dengan seperti itu &#8230; kamu lucu seperti anak kecil yang mainannya disimpan oleh saudaramu” kataku dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku angkat wajahku, ku arahkan ke batang pohon ketapang, kutatap kembali dengan mataku, nanap dan lekat, tulisan yang ada namaku dan namamu. Aku bergumam hampir berbisik: “Riana lama sekali yah waktu memisahkan kita, namun rasanya kita disini baru kemaren, pohon ketapang itu masih ada Riana, begitu juga guratan tulisan namaku dan namamu masih, aku sekarang duduk di sini masih seperti kemaren itu juga. Kamu sekarang sukses Riana, ibu dari 2 orang puteri dan satu orang putera. Dua orang anakmu sudah hampir menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, anakmu yang bungsu duduk di kelas III SMP. Kamu isteri dari seorang pengusaha yang sukses dan kamu sendiri adalah dosen yang dicintai oleh mahasiswa-mahasiswamu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu juga lelaki yang sukses kak Agung Perkasa, sesuai dengan namamu, hebat, cemerlang dan perkasa. Kau memang patut mendapat kesuksesan, kamu seorang pekerja yg tekun dan teliti, kamu pendiam tetapi kamu pekerja yang rajin, sangat sesuai dengan profesimu sebagai seorang engineer lulusan universitas yang ternama” suara Riana jelas terdengar di telingaku, ahh &#8230; dimana dia &#8230; apakah dia ada disini juga? Wow &#8230; di tulisan namaku dan nama Riana, wajahnya muncul membayang disitu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku merasa tidak seperti itu, aku masih banyak kekurangannya dibandingkan dengan apa yang telah kamu miliki Riana &#8230;. !”</p>
<p style="text-align:justify;">Riana Indah Dewi mendekati aku, dia duduk, kami jadi berdempetan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maaf &#8230; mudah-mudahan dugaan adik salah. Perasaan kekurangan yang ada pada diri kak Agung barangkali kak Agung belum mempunyai pendamping sebagai teman hidup kak Agung yah &#8230; Cari dong kak Agung &#8230;.?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Belum kak Agung dapatkan wanita seperti dik Riana &#8230;! kataku pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wuih &#8230; tumben kak Agung sekarang jadi orang yang bisa membalas pembicaraan dik Riana &#8230; hi hi hi. Ada perubahan nih pada diri kak Agung &#8230;. !”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yaahhh &#8230; banyak yang sudah berubah, tapi &#8230; (sambil telunjukku mengarah ke batang pohon ketapang) guratan tulisan namaku dan namaku di sana tetap, tidak berubah, abadi &#8230;. sebagaimana tidak berubahnya dan abadinya perasaan kak Agung kepada dik Riana &#8230;.”</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(Ketika ceritera ini ditulis, Riana Indah Dewi meletakkan telunjuknya tegak lurus ke bibirnya &#8230; “sstt, jangan dihabiskan menulisnya nanti kak Agung kehabisan bahan dan ide, nanti saja dilanjutkan menunggu komentar dari pembacanya apa tertarik untuk diteruskan atau sampai di sini saja”)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Aku mengangguk, tanda setuju dengan apa yang dikatakan Riana Indah Dewi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=126&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/10/04/namaku-dan-namamu-kenangan-itu-cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AIRMATA UNTUK AYAH</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/09/27/airmata-untuk-ayah/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/09/27/airmata-untuk-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 04:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Hairiyadi (Kelana Budaya) Ananda Yanuar yang ayah sayangi dan ayah cintai. Bagaimana kabar ananda Yanuar? Ayahanda berharap keadaan ananda Yanuar sehat wal a’afiat dan selalu mendoakan ananda Yanuar agar selalu mendapat kemajuan dalam studinya. Keadaan ayahanda, ibunda serta keluarga lainnya di kampung saat ini sehat2 saja dan mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=122&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Hairiyadi (Kelana Budaya)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Ananda Yanuar yang ayah sayangi dan ayah cintai.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bagaimana kabar ananda Yanuar? Ayahanda berharap keadaan ananda Yanuar sehat wal a’afiat dan selalu mendoakan ananda Yanuar agar selalu mendapat kemajuan dalam studinya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Keadaan ayahanda, ibunda serta keluarga lainnya di kampung saat ini sehat2 saja dan mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ayahanda dapat memahami surat ananda Yanuar yang mengabarkan belum bisa pulang ke kampung berkumpul bersama keluarga pada lebaran tahun ini karena ananda Yanuar harus mengikuti ujian lisan untuk salah satu mata kuliah yang dilaksanakan dua hari sesudah lebaran, tentunya ananda Yanuar sudah harus mempersiapkan diri jauh hari sebelum pelaksanaan ujian lisan tersebut.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kerinduan ayahanda, ibunda dan seluruh keluarga pada ananda Yanuar, sebaliknya kerinduan ananda Yanuar pada ayahanda, ibunda, keluarga-keluarga yang lain serta kampung halaman, pasti ada. Namun karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk mengobati kerinduan tersebut maka kita harus bersabar.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sampai disini dahulu surat ayahanda, jangan tinggalkan sholat dan jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengabul Segala Doa, kurangi kebiasaan merokoknya yah.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Salam rindu dari ayahanda.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sepucuk yang dibaca oleh Yanuar yang dikirimkan oleh ayahnya sebagai balasan atas surat yang dikirmkan Yanuar lima hari yang lalu. Yanuar lega karena keadaan ayah dan ibunya serta keluarganya yang lain di kampung sehat-sehat saja, selain itu Yanuar juga merasa lega karena ayah dan ibunya dapat memahami ketidak hadirannya di tengah-tengah keluarga pada lebaran tahun ini karena dia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian salah satu mata kuliah yang dilaksanakan dua hari sesudah lebaran.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Malam semakin larut, namun Yanuar tidak beranjak dari meja belajarnya, setumpuk buku referensi perkuliahan dan segepok catatan-catatan kuliah terhampar dihadapannya. Buku demi buku, catatan demi catatan kuliah dibacanya dengan sungguh-sungguh. Yanuar mengkonsentrasikan dirinya secara penuh terhadap apa yang dibacanya, dia betul-betul ingin lulus secara terhormat di hadapan dosen yang akan mengujinya pada ujian lisan nantinya. Aku harus lulus, aku harus memberikan bukti pada ayah dan ibuku bahwa ketidak hadiranku pada lebaran tahun ini di tengah-tengah keluarga memang membuahkan hasil yang memuaskan, ayah dan ibuku tentu akan bangga dan sangat gembira dengan kesungguhanku dalam studi, aku anak tunggal yang diharapkan keberhasilannya oleh mereka. Begitulah suara batin dan tekad Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ngantuk mulai menggoda, Yanuar segera ke belakang mengusapkan air dingin yang segar ke wajah dan kepalanya, kemudian dinyalakannya rokoknya, dihisapnya dengan dalam kemudian menghembuskan asapnya dengan santai dan pelan. Sesudahnya, Yanuar kembali larut dalam keseriusannya membaca bahan-bahan untuk ujian lisannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Tok tok tok tok tok</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Terdengar bunyi ketokan di pintu rumah kostnya. Yanuar terkejut, dia menoleh ke arah pintu. Siapa ya? Ada apa ya? Gumam Yanuar dengan pelan. Yanuar berdiri dari kursinya dan beranjak menuju pintu kemudian dia membukanya sedikit demi sedikit.</p>
<p style="text-align:justify;">Assamualaikum &#8230;..?! terdengar suara dari luar pintu. Wa alaikumsalam, Yanuar membalas ucapan salam dari luar pintu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oouuu &#8230;. pak RT, silahkan masuk pak!” kata Yanuar setelah mengenali orang memberi salam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, terimakasih! Ini nak Yanuar, ada keluarga dari nak Yanuar yang datang dari kampung ingin bertemu nak Yanuar”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oooouuu &#8230;. begitu! Silahkan saja! Siapa ya pak?” sembari mata Yanuar mencoba mengenali wajah dua orang laki-laki yang berdiri di belakang Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah tumben, om Hasan dan itu om Murdi ya?”  suara Yanuar terlontar dengan kagetnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mari, silahkan masuk om”</p>
<p style="text-align:justify;">“Begini, sebaiknya kita ngobrol di rumah saya saja” kata pak RT menimpali.</p>
<p style="text-align:justify;">“Boleh, boleh” sahut Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Yanuar, om Hasan dan om Murdi mengikuti ajakan pak RT untuk ngobrol di rumahnya. Setelah mereka duduk di ruang tamu, dengan waktu yang tidak begitu lama anak wanita pak RT keluar menyajikan teh manis dan penganan kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesaat suasana hening.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 2 malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar memandang wajah pak RT, wajah om Hasan dan wajah om Murdi, sepertinya wajah-wajah mereka dibuat dengan rona wajah setenang mungkin. Mereka semua diam, seakan mulut mereka semuanya terkunci.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada apa ini? Mengapa om Hasan dan om Murdi yang tidak pernah berkunjung ke tempatku kuliah dengan tiba-tiba, pada malam yang begini larut datang ke tempatku. Begitu juga dengan pak RT yang tidak pernah mengunjungiku koq datang bersamaan dengan om-omku. Mengapa untuk mengobrol harus ke rumah pak RT? Pasti ada sesuatu yang penting, tetapi apa ya? Mengapa saat ini mereka pada diam membisu?</p>
<p style="text-align:justify;">Benak Yanuar dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang keluar dari suara hatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Begini Yanuar” pak RT memulai membuka obrolan. “Kedua om mu ini datang ke rumahku menanyakan tempat kos kamu dan sekaligus mengantarkan mereka ke sini, mereka membawa kabar untuk kamu”</p>
<p style="text-align:justify;">“Silahkan pak berbicara dengan nak Yuniar” pak RT mempersilahkan kedua om Yanuar untuk menyampaikan berita dari kampung.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar menghadapkan wajahnya ke arah kedua omnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yanuar &#8230;. bapakmu sekarang sedang sakit” terdengar suara om Hasan dengan lirih.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapak sedang sakit? Ah &#8230;. masak om, kan tadi saya baru saja membaca suratnya yang mengabarkan bahwa bapak dan ibu serta keluarga lainnya dalam keadaan sehat wal a’fiat” suara Yanuar bernada kaget.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya &#8230;. benar Yanuar, sakitnya tadi pagi, mendadak” sela om Murdi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lalu &#8230;.. bagaimana keadaan sakitnya om &#8230;. parah ya”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sakit bapakmu tidak seberapa Yanuar, tetapi beliau minta untuk bertemu kamu, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepadamu, jadi kamu harus pulang ke kampung bersama kami” suara om Murdi masih terdengar lirih sambil matanya menatap Yanuar dengan sayu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi &#8230;.. Yanuar dua hari di depan akan menghadapi ujian lisan dan sekarang sedang belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian lisan tersebut” sahut Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya &#8230;. tadi ibumu juga menyampaikan hal yang sama kepada kami, tapi bapakmu tetap minta bertemu dengan Yanuar, jadi sekarang kita pulang saja” kata om Hasan bernada mendesak.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar tertegun sesaat, seperti ada keraguan dalam dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang juga om” kata Yanuar tegas</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh &#8230;. kamu kan masih pakai sarung dan itu &#8230;. bajumu, baju kaos oblong, ganti pakaian dulu dan bawa beberapa lembar pakaian untuk dipakai di kampung nanti”, pak RT ikut nimbrung pembicaraan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak usah pak RT, kan katanya om sakitnya bapak saya tidak seberapa, jadi saya tidak berlama-lama di kampung, mungkin siang jam 2 saya harus kembali kesini, tidak usah menginap”</p>
<p style="text-align:justify;">“Benar &#8230;. kata pak RT itu, ganti pakaian dan bawa beberapa lembar untuk ganti pakaianmu nanti di kampung” begitu kata om Hasan kepada Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar mengikuti ucapan para orang tua yang berada di situ. Dengan tergesa-gesa Yanuar berganti pakaian dan mengambil beberapa potong pakaian lainnya, lalu dengan seadanya Yanuar memasukkan ke dalam tas punggungnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Om &#8230;. tolong temani Yanuar untuk menemui bapak dosen yang nanti akan menguji Yanuar, memohon penundaan ujian lisannya karena Yanuar akan pulang kampung menjenguk bapak yang sedang sakit” pinta Yanuar kepada om-om nya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh iya &#8230;. om akan menemani kamu menemui dosen dimaksud” kata om Hasan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Yanuar dan kedua om nya berpamitan kepada pak RT untuk segera berangkat malam itu juga ke kampung. Yanuar bersalaman dan mencium tangan pak RT. Yanuar meminta didoakan agar selamat sampai di kampung dan meminta didoakan juga agar  sakitn bapakya segera sembuh. Pak RT menganggukkan kepalanya dan melepaskan kepergian Yanuar bersama om nya sampai di depan pintu pagar halaman.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baik-baik di kampung dan yang sabar ya nak Yanuar” suara pak RT terdengar berat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya pak, makasih pak” jawab Yanuar</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh &#8230;. kamu duluan sedikit ya Yanuar, om ada yang disampaikan dulu kepada pak RT” suara om Hasan terdengar dengan tiba-tiba.</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh &#8230;. iya om”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari kejauhan Yanuar memperhatikan gerak-gerik om Hasan dan pak RT sepertinya berbicara sangat serius. Kadang-kadang pak RT menganggukkan kepalanya dan melihat ke arah Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada apa ya? Apa sih yang dibicarakan mereka? Mengapa pak RT kadang-kadang memandang ke arahku sambil menganggukkan kepala? Kembali pertanyaan-pertanyaan suara batin Yanuar memenuhi benaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai berbicara dengan pak RT, om Hasan segera menyusul Yanuar dan om Murdi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka selanjutnya bertiga menemui dosen Yanuar yang akan melaksanakan ujian lisan. Sesampainya di rumah dosennya, Yanuar menyampaikan permohonan penundaan untuk ujian lisannya. Dosennya dapat mengerti dan memberikan kesempatan kepada Yanuar untuk mengikuti ujian lisan susulan nantinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti juga dengan pak RT, om Hasan menyuruh Yanuar dan om Murdi berjalan duluan di depan. Sedangkan om Hasan berbicara berdua dengan dosennya Yanuar dengan gerak-gerik yang sama seperti ketika om Hasan berbicara dengan pak RT.</p>
<p style="text-align:justify;">Lagi-lagi, pertanyaan demi pertanyaan memenuhi rongga kepala Yanuar. Aduuuh, ada apa ini?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Mobil sedan Toyota Corolla DX melaju menembus kegelapan malam. Udara kemarau terasa begitu dingin. Jalanan lengang karena tidak begitu banyak kenderaan yang melintas. Tiga orang penumpang dan satu pengemudinya saling berdiam diri seakan terlarut dengan pikirannya masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Yanuar &#8230;. kamu tidur saja, om lihat Yanuar sangat lelah” suara om Murdi seperti berbisik ke arah Yanuar, memecah kebisuan orang-orang yang berada dalam mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">“Makasih om, Yanuar belum mengantuk, kalau om mau tidur saja” jawab Yanuar</p>
<p style="text-align:justify;">“Ndak, om belum mengantuk juga, eh &#8230;.. bapakmu sering berpesan pada om agar Yanuar tekun dalam studi dan dia juga sering berceritera pada om bahwa dia sangat bangga dengan Yanuar. Dia menceriterakan bahwa Yanuar selalu menjadi juara kelas sejak dari SD sampai dengan SMA dan ketika kuliah sekarang Yanuar juga adalah salah satu dari mahasiswa yang mendapat beasiswa karena prestasimu yang gemilang di bangku perguruan tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapak berceritera begitu sama om Murdi” kata Yanuar</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, begitu bapakmu berceritera sama om Murdi”</p>
<p style="text-align:justify;">Ada terbersit rasa gembira yang luar biasa di dalam hati Yanuar karena dia telah bisa memberikan rasa bangga pada orang tuanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Namun demikian, bapakmu juga berpesan, Yanuar tidak hanya memiliki prestasi belajar yang gemilang, harus dibarengi juga dengan kemampuan memiliki kesabaran dan ketenangan yang tangguh, tidak egois, tidak sombong, tidak su’uzon pada orang lain, mampu menghargai kemampuan dan prestasi orang lain, punya tutur kata dan sikap yang santun”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya om, Yanuar akan selalu mengingat pesan bapak itu dan insya Allah akan mewujudkannya dalam prikehidupan Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Betul Yanuar, kamu jangan seperti om yang sekolahnya tidak pernah selesai-selesai, ya, jadi beginilah jadinya &#8230;&#8230;.. ?!</p>
<p style="text-align:justify;">“Walah, om koq begitu, om ini kan pengusaha yang sukses, om terlampau merendah membuat Yanuar jadi malu”.</p>
<p style="text-align:justify;">“He he heh heh”, om Murdi tertawa terkekeh.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar mencoba melihat ke kursi depan yang menjadi tempat duduknya om Hasan. Wow &#8230; ternyata om Hasan tertidur dengan lelapnya di samping mas pengemudi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Perjalanan Yanuar yang memakan waktu kurang lebih lima jam sudah hampir sampai di rumahnya. Entah mengapa om Murdi yang duduk di samping Yanuar semakin merapatkan posisi duduknya sehingga berdempetan dengan Yanuar, sambil tangannya memegang bahu Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yanuar, kamu seorang lelaki, om yakin selain memiliki prestasi belajar yang cemerlang kamu juga seorang lelaki yang memiliki ketenangan yang luar biasa dan kesabaran yang tangguh” om Murdi berbisik di telinga Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar diam, matanya lekat menatap jauh ke depan di keremangan subuh seolah-olah ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar bingung bercampur kaget, koq rumahnya sangat terang benderang dengan cahaya lampu, orang-orang kampung koq pada banyak berkumpul di depan rumahnya. Yanuar gelisah.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat Yanuar yang gelisah, om Murdi semakin erat memegang bahu Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika mobil berhenti tepat di depan rumah, Yanuar yang tadinya gelisah berubah, seluruh tubuhnya bergetar, bibirnya kelu dan kaku, pikirannya kacau. Bendera hijau yang tertancap di halaman rumah bertuliskan: Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun, membuat Yanuar sudah mendapatkan jawaban segala pertanyaan-pertanyaan yang sejak keberangkatan selalu memenuhi benaknya. Yaa Allah, bapakku meninggal, bapakku sekarang meninggal, bapakku sekarang meninggal. Itulah jawabannya yang terus bergaung di gendang telinganya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar merasakan seluruh tubuhnya lunglai, tulang-belulangnya tidak mampu lagi menopang tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapakku sekarang meninggal, hiks &#8230; hiks &#8230; hiks” gumam lirih dan tangis kecil Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">Seketika segalanya menjadi kabur dalam pandangan Yanuar. Yanuar tidak bisa mengkonsentrasikan dirinya siapa saja orang-orang yang berkumpul di depan rumahnya. Om Hasan dan om Murdi menjadi kabur dilihatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tenang dan yang sabar ya!” suara om Hasan mencoba untuk menguatkan Yanuar yang oleng lahir dan batinnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar diam membisu dan masih terduduk mematung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo Yanuar, kita turun” kata om Hasan sambil membuka pintu mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar masih tetap diam mematung, tubuhnya sudah tidak punya tenaga lagi, perasaannya mengharu-biru, dadanya serasa pecah, pikirannya kacau-balau.</p>
<p style="text-align:justify;">Om Murdi dan om Hasan memapah Yanuar turun dari mobil dan menggiringnya memasuki rumah. Ibunya Yanuar meraung menangis, menubruk dan memeluk Yanuar dan ikut menggiring Yanuar menuju kamar ayahnya yang sekarang terbaring, membujur dan kaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar tersungkur di samping tubuh ayahnya dan wajah tertelengkup dengan tangan memegangi pipi ayahnya. Airmatanya yang tadi sudah mulai menggenang kini tertumpah, terburai membasahi seluruh wajahnya. Tubuhnya bergetar keras. Yanuar sudah lupa dengan keadaan di sekitarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Suasana seisi rumah hening, yang terdengar hanya suara tangisan pilu Yanuar dan isak tangis para keluarga. Orang-orang yang berada di sekitarnya membiarkan Yanuar menangis untuk memberikan kesempatan kepada Yanuar menumpahkan semua kesedihannya di samping tubuh ayahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayahku, ayahku, ayahku &#8230;.. huk huk huk huk, ayah bilang ayah sehat &#8230;.. koq ayah sekarang pergi meninggalkan Yanuar, Yanuar butuh ayah, Yanuar pengen berceritera tentang kuliah Yanuar kepada ayah, ayah kan seorang pendengar yang baik, ya yah ya, Yanuar belajar untuk kebanggaan ayah, tidak ada motivasi yang lain, dari sejak remaja sampai sampai sekarang jadi mahasiswa, Yanuar tidak ingin membagi cinta selain untuk ayah dan ibu, benar yah, huk huk huk &#8230;.. hiks hiks hiks” suara dan tangis Yanuar terdengar lirih, sungguh memilukan, sepertinya Yanuar berbicara dengan ayahnya masih hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yanuar, sekarang kamu bacakan surah Yasiin untuk ayahmu” kata ibunya Yanuar dengan sangat pelan dan lembut. Kelembutan seorang ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya bu, tapi mata Yanuar tidak bisa melihat rangkaian huruf-hurufnya bu .. “ kata Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu akan membimbing Yanuar untuk membacanya, Yanuar ikuti saja ya &#8230;. bacaan ibu”.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yaa &#8230; buuu &#8230;.. hiks hiks hiks”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yasiin, yasiiin, yasiin, wal qur’anil hakim, innaka la minal mursalin &#8230;..” ibu Yanuar membimbing Yanuar membacakan surah Yasiin.</p>
<p style="text-align:justify;">Yanuar mengikuti apa yang dibacakan ibunya. Perasaan Yanuar melayang. Jiwanya berasa keluar dari tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedinginan subuh menjelang pagi penuh keheningan. Yanuar terlarut dalam pembacaan surah Yasiin untuk ayahnya. Kokok ayam mulai terdengar. Para kerabat dan tetangga sudah memulai kesibukannya mempersiapkan pemakaman ayah Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pada pukul 2 siang jenazah ayah Yanuar di masukkan ke liang lahat. Ketika jenazah sudah dibaringkan di liang lahat, Yanuar yang memegang posisi kepala ayahnya dan sebagai ucapan perpisahan dia membisikkan kata-kata: ayahku &#8230;. ayah istirahat yang yang ya ayah, doa akan selalu Yanuar kirimkan untuk ayah, Yanuar akan tetap menjadi kebanggaan ayah, Yanuar nantinya akan membawa ijazah hasil belajar Yanuar dan dan juga Yanuar akan bawakan calon mantu untuk meminta persetujuan ayah, Allahu Akbar &#8230; ya Allah &#8230;. berikanlah dan tempatkanlah ayahku ditempat yang layak di sisiMu. Amin.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Enam tahun kemudian di pusara ayah Yanuar duduk dengan khidmat sepasang orang muda. Seorang lelaki berkulit sawo matang dengan rambut keriting berombak dan seorang wanita dengan kulit putih bersih kekuning-kuningan dengan rambut sebatas bahu berwarna kuning kemarahan. Sepasang orang muda itu berdoa dengan khidmat di atas pusara ayah Yanuar. Selesai berdoa sepasang orang muda tersebut masih tetap duduk disana dan nampak mulut sang lelaki komat-kamit seperti orang yang berbicara:</p>
<p style="text-align:justify;">Ayah &#8230;.. ini untuk yang ke sekian kali Yanuar datang di pusara ayah. Sekarang berkat kasih sayang ayah, Yanuar bawakan sesuatu yang akan menjadi kebanggaan ayah, ini ayahku (sambil tangan sang lelaki memperlihatkan selembar kertas) Yanuar  telah memperoleh ijazah sebagai seorang sarjana teknik mesin, dan ini (tangan sang lelaki menunjuk wanita yang berada di sebelahnya) Yanuar bawakan seorang wanita yang namanya  Lyra Auradianty yang bersedia menjadi mantu ayah, ayah bangga kan bahwa Yanuar sudah berhasil menjadi seorang sarjana teknik mesin, dan ayah setuju kan Lyra Auradianty ini menjadi mantu ayah, setuju kan yah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesaat suasana menjadi begitu hening, angin semilir bertiup dengan lembut, daun-daun kering gugur beterbangan di atas lokasi pekuburan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba sang wanita terpekik, rupanya sang lelaki muda di sampingnya jatuh tertelungkup di pangkuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Keesokan harinya di samping pusara ayah Yanuar telah terdapat sebuah gundukan tanah baru dan banyak orang-orang berkumpul di sana termasuk Lyra Auradianty. Seorang lelaki nampak berdiri di tengah orang-orang yang berkumpul berkeliling, dia adalah om Murdi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Inna lillahi wan ilaihi ro’jiun &#8230;. pada hari ini telah kembali ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, anak, adik, keponakan, sahabat kami yang tercinta Yanuar bin Andre Iskandar. Atas nama keluarga, kami memohon pintu kemaafan dan keampunan atas segala kesalahan dan kehilafan yang pernah dilakukan oleh almarhum semasa hidup. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh handai taulan yang telah memberikan bantuan sehingga dapat terlaksanakanya pemakaman anak, adik, keponakan dan sahabat kami yang tercinta. Pada kesempatan ini sudilah kiranya para handai taulan memberikan doa semoga arwah almarhum Yanuar bin Andre Iskandar diterima oleh Allah SWT sesuai dengan amal perbuatannya di dunia dan juga doakanlah agar kami-kami sebagai keluarga yang ditinggalkan sabar dan tabah menghadapi cobaan ini. Terima kasih, wassalamualaikum warramatullahi wabarakatuh.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ketika orang-orang sudah pada beranjak meninggalkan tempat pemakaman, om Murdi dan Lyra Auradianty masih berdiri di sana. Dengan langkah perlahan Lyra Auradianty mendekati nisan yang bertuliskan Yanuar bin Andre Iskandar, dia bersimpuh dan tangannya mengusap nisan yang bertuliskan Yanuar bin Andre Iskandar tersebut dengan lembut. Meluncur dengan sendu kata-kata:</p>
<p style="text-align:justify;">Abang Yanuar yang kucintai dan kusayangi &#8230;.. Lyra akan menjalani kehidupan di hari-hari mendatang tanpa abang Yanuar, begitu singkat perkenalan dan pertemuan kita, benang yang kita rajut belumlah sempat menjadi kain, bunga indah yang kuncup belum sempat menjadi mekar, abang Yanuar &#8230;. dengan perkenalan dan pertemuan yang singkat, abang Yuniar telah memberikan pelajaran tentang apa arti cinta dan perjuangan hidup. Terima kasih ya abang Yanuar. Beristirahat dalam damai ya abang Yanuar. Tetes demi tetes, air mata Lyra berkilat bening membasahi pipinya yang putih.</p>
<p style="text-align:justify;">Lembayung petang mulai memancarkan cahaya rona merahnya di ufuk barat pertanda malam akan segera menutup siang. Kepak-kepak sayap burung bangau putih yang berayun syahdu yang terbang melintas di atas angkasa pulang menuju sarangnya. Desiran sang bayu menimbulkan bunyi gemerisik dedaunan bagaikan melodi yang mengalunkan nada-nada sendu.</p>
<p style="text-align:justify;">Om Murdi dan Lyra Auradianty berjalan beriringan meninggalkan pusara Yanuar.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">******** tamat ************</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=122&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/09/27/airmata-untuk-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KUNTUM BUNGA YANG INDAH DI BALAI BARINGAN</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/30/kuntum-bunga-yang-indah-di-balai-baringan/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/30/kuntum-bunga-yang-indah-di-balai-baringan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 11:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh: Hairiyadi   Mataku sangat mengantuk sekali, celoteh teman-teman sedikit demi sedikit mulai terdengar sayup-sayup di telingaku dan akhirnya menghilang, aku tidak tahu lagi berapa lama aku ketiduran. Rupanya terlalu duduk di lama mobil dengan terpaan angin yang masuk lewat jendela membuat diriku merasa lelah dan secara alami mengantarku ke dunia mimpi. Hari itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=99&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ditulis oleh: <em><strong>Hairiyadi</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Mataku sangat mengantuk sekali, celoteh teman-teman sedikit demi sedikit mulai terdengar sayup-sayup di telingaku dan akhirnya menghilang, aku tidak tahu lagi berapa lama aku ketiduran. Rupanya terlalu duduk di lama mobil dengan terpaan angin yang masuk lewat jendela membuat diriku merasa lelah dan secara alami mengantarku ke dunia mimpi.</p>
<p><span id="more-99"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hari itu, Sabtu, 10 Juni 2006, kami sedang dalam perjalanan menuju lokasi praktek kuliah lapangan yang berdasarkan informasi dari dosen pembimbing kami berjarak kurang lebih 210 km dari Banjarmasin. Jumlah mahasiswa yang mengikuti praktek kuliah lapangan, 110 orang dengan bapak Ary sebagai dosen pembimbing. Mobil yang mengangkut rombongan adalah mobil Colt L300 sebanyak 15 buah. Kami berangkat dAry halaman kampus sekitar jam 9.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terkejut ketika terasa ada suara dan tepukan tangan di pundakku, “He Dud !, yuk bangun”. Aku terbangun dan mencoba membuka mata, pandanganku masih kabur, terlihat Dany sudah duduk di depan pintu mobil. Aku membetulkan posisi badanku yang tadinya miring tersandar di dinding mobil. Setelah pandanganku jelas, aku bertanya pada Dany. “Dan, kita sudah sampai di tempat tujuan ya”, tanyaku. Dany memberitahu, “belum nih, kita sekarang baru sampai di Pulau Pinang, yah kira-kira separo perjalanan lah, ayo kita turun mengisi perut dulu untuk mempersiapkan fisik melanjutkan perjalanan berikutnya. Aku memandang ke sekeliling mobil, ternyata teman-teman sudah pada ke luar yang masih tertinggal cuma aku dan Dany. “Ayo Dud, cepetan dikit nanti keburu teman-teman pada sudah selesai makan dan mobil berangkat lagi, celaka kita, bisa-bisa kita ambruk di tengah perjalanan nanti karena kelaparan”, kata Dany sambil menarik tanganku. Aku mengikuti ajakan Dany, langkahku terasa berat, maklum karena baru bangun dari tidur. Berdua dengan Dany, kami menuju tempat mencuci tangan dan muka yang terletak di samping warung makan. Setelah terasa segar karena siraman air yang dingin, aku duduk di sebuah bangku kecil sambil menunggu Dany yang menyempatkan diri untuk buang air kecil di wc belakang warung. Setelah Dany menyelesaikan tugasnya buang air kecil, kami bersama-sama menuju ke dalam warung bergabung dengan teman-teman yang sudah dengan lahapnya menyantap makanan pesanan masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku dan Dany pun memesan makanan. Tidak terlalu lama pesanan pun datang. Tengah asyik menyantap makanan, tiba-tiba,  entah kapan datangnya sudah nongkrong di seberang meja kami, si Astri, mahasiswi yang menjadi sekretaris kegiatan praktek kuliah lapangan, langsung saja Astri nyerocos, “Dudy, kamu beruntung hari ini”. “Memang kenapa”, tanyaku dalam kebingungan. “Begini, waktu kamu tidur, kami udah punya rencana melempar kamu ke pinggir jalan, karena tidur kamu tuh lasak sekali, rebah ke kiri, rebah ke kanan, membuat teman-teman yang duduk bersebelahan dengan kamu menjadi terganggu” , jelas kita kepada Dudy, “Ah masa”, kataku. “Tuh ! tanya sama Dany, betul apa tidak”, sambil tangan Astri memandang Dany.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terus saja menyantap makananku, sudah tidak tahu lagi apa saja yang diocehkan si Astri, mahasiswa yang terkenal tukang bawel di angkatanku. Selesai makan, aku bertanya pada pada Astri, “As, dosen idolaku dimana ya, koq tidak kelihatan sejak aku turun dAry mobil tadi”. Siapa maksud kamu Dud”, Astri balik bertanya kepadaku. “Ya, siapa lagi lah kalau bukan dosen pembimbing praktek kuliah lapangan kita ini”, kataku. “Ooo ! pak Ary, itu tuh nongkrong di warung kecil di seberang jalan”, sambil jAry Astri menunjuk warung yang dimaksud. “Nah ! sekarang sebagai hukuman atas niat kamu bersama teman-teman mau melempar aku ke pinggir jalan maka kamu harus membayar makananku dan makanan Dany”, suaraku dibuat memelas. “Hah ! dasar kamu Dud, tapi tidak apa-apa, aku akan bayarkan semua makanan kalian. “Nah, gitu tuan puteri, ini namanya tuan puteri Cinderella yang dermawan”, pujiku kepada Astri. Kami tertawa. “Tapi ! ada syaratnya, kalian harus bantu aku di perjalanan nanti”, timpal Astri. “Siap tuan puteri”, sahutku secara bersamaan dengan Dany. “Oke, tuan puteri, hamba mohon diri dulu untuk menyusul pak Ary”, sambil aku berjalan menyeberang jalan menyusul pak Ary.</p>
<p style="text-align:justify;">Secangkir kopi pahit dan pisang goreng menemani pak Ary yang sedang nongkrong di warung kecil, dengan santainya pak Ary duduk di bangku warung paling pojok. Aku menyapa pak Ary, “wah pak Ary lagi santai ya”. Pak Ary menoleh sambil membalas sapaanku, Hai, kamu Dudy, mari sama-sama ngopi yu”. Aku mengucapkan terima kasih atas ajakan pak Ary. “Pak”, kataku, “bapak sudah makan atau belum”. “Kebetulan bapak masih kenyang, jadi untuk saat ini cukup makanan ringan saja, bapak sudah pesan makanan yang dibungkus untuk dimakan di tengah perjalanan berikutnya”. jawab pak Ary. “Ooo, begitu pak”, kataku dilanjutkan dengan pertanyaan kepada Ary, “Pak, berapa lama lagi perjalanan kita”. “Insya Alah, kalau tidak ada hambatan apa-apa kita akan sampai kira-kira satu setengah jam lagi di tempat mana mobil-mobil angkutan kita ini nanti tidak bisa masuk melanjutkan mengantar kita, selanjutnya kita meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki merambah alam pegunungan Meratus yang ditingkahi dengan sungai-sungai dan hutan-hutan tropik”, kata pak Ary. “Kondisi jalannya bagaimana pak”, kataku melanjutkan pertanyaan. “Jalannya jalan setapak, kebetulan sekarang ini musim hujan maka sudah dapat diperkirakan kondisi jalannya licin dan air sungai yang nanti akan banyak kita temui cukup dalam”, jelas pak Ary. “Okey, bagaimana Dud, kita siap” kata pak sambil memandangku. “Siap pak”, kataku.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak Ary menghabiskan sisa kopi dan pisang gorengnya, kemudian setelah membayarnya kepada pemilik warung, pak Ary berdiri dan menyuruh aku untuk memberitahu teman-teman agar segera berangkat melanjutkan perjalanan kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Rombongan pun berangkat kembali, sekitar satu jam mobil-mobil rombongan kami mulai menempuh perjalanan pegunungan yang turun-naik, jurang-jurang yang menganga di kiri-kanan jalan, tikungan-tikungan yang tajam, jalanannya pun sempit, namun demikian, masya Allah, aduhai, pemandangan alamnya sungguh menakjudkan, sungguh memukau, aku berdecak kagum, bagaimana tidak berdecak kagum, jejeran pegunungan dengan punggungnya yang menghijau yang sungguh kontras dengan latar awan yang putih biru, terlihat olehku jalan di depan yang akan dilalui mobil bagaikan juluran ular yang berliku, udara yang sejuk menambah suasana keindahan yang kurasakan. Sesaat aku memejamkan mata dan mendekapkan kedua tanganku di dadaku seraya mengucap lirih, “Terima kasih ya Allah, paduka telah menganugerahkan alam yang indah kepada kami dan kami sekarang dapat menikmatinya”.</p>
<p style="text-align:justify;">Benar kata pak Ary, kira-kira setengah jam kemudian kami sudah tiba di mana mobil-mobil tidak bisa melanjutkan mengantar kami karena jalan menuju lokasi kegiatan praktek kuliah lapangan tidak bisa dilalui oleh kenderaan bermotor roda empat. Ketika mobil-mobil rombongan kami berhenti, aku melihat pak Ary sudah berdiri berdiri di pinggir jalan dengan ransel menempel di punggungnya, sambil mengisap rokok kesayangannya, pak Ary menunggu kami turun dari mobil dengan perlengkapan kami masing-masing. Aku bersama Dany, Astri dan ketua rombongan yang bernama Rony menyusul pak Ary . Pak Ary meminta agar Rony agar mengumpulkan teman-temannya untuk segera mendengarkan pengarahan oleh pak Ary.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sekarang waktu disini sudah menunjukan pukul 3, perjalanan berikut yang akan kalian tempuh membutuhkan waktu sekitar 4 jam jalan kaki untuk sampai di lokasi praktek, di depan kita adalah jalan yang akan kita lalui, jalannya jalan setapak dengan rimbunan hutan-hutan, di beberapa ruas jalan kita menyeberangi sungai-sungai dengan air yang cukup dalam, cukup lebar dan cukup deras arusnya, begitu kata pak Ary dalam pengarahannya. Selanjutnya pak Ary berkata, “dalam perjalanan yang cukup jauh ini, ditambah dengan medan yang sulit maka bapak berharap kalian selalu menjaga kebersamaan dalam perjalanan, jangan terlalu banyak mengeluh bagaikan anak kecil yang cengeng, berusahalah untuk selalu tetap semangat, saling membantu sangat diperlukan dalam perjalanan kita ini”. “Kalian dapat mengerti apa yang bapak maksudkan”, tanya pak Ary. “Mengerti pak”, jawab kami serempak. “Ada yang ingin bertanya”, pak Ary memandangi kami. “Sudah cukup pak”, kami menyahut beramai-ramai. “Oke, kalau begitu mAry kita mulai menempuh pegunungan berhutan ini”, ajak pak Ary dengan menyuruh aku bersama Dany dan Astri berada di posisi paling depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan menempuh perjalanan yang sulit sudah kami mulai, gunung demi gunung, bukit demi bukit kami daki, jurang-jurang kami turuni, hutan demi hutan kami rambah, dan sungai demi sungai kami seberangi. Awan hitam mengiringi perjalanan kami pertanda hujan akan segera turun dari langit, angin pun bertiup kencang, dan benar hujan pun turun dengan derasnya. Dalam suasana hujan yang terasa dingin, aku ingat pak Ary, apakah pak Ary membawa perlengkapan jas hujan ataukah pak Ary basah kuyup dan kedinginan di tengah perjalanan. Aku meminta Dany dan Astri berhenti berjalan sesaat, kemudian aku berkata pada Dany dan Astri, “Dany dan juga kamu Astri, silahkan kamu terus berada di posisi depan, aku akan menunggu pak Ary, kasihan pak Ary”, “Tapi kan masih banyak mahasiswa lainnya di belakang kita, mungkin pak Ary dalam kelompok mahasiswa itu”, kata Astri. “Ya, mungkin saja, tapi saat ini aku ingin berjalan bersama-sama pak Ary dalam hujan dan dingin”, kataku. “Baiklah, silahkan Dudy menunggu pak Ary, kami sangat setuju, kami mohon pamit untuk duluan ya”, kata Dany dan Astri. “Oke, silahkan”, jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku duduk di pinggir jalan sambil berhujan menunggu pak Ary. Kuambil minuman dingin dari dalam ranselku, kutuangkan ke mulutku dengan derasnya, ahhh, segarnya terasa rasa hausku berkurang. Lama aku menungggu, dAry kejauhan nampak sekelompok mahasiswa sedang berjalan beriringan dengan langkah berat karena kapayahan, mereka semakin dekat dan akhirnya berhenti di depanku,mereka juga mengeluarkan minuman yang dibawanya, aku memperhatikan temam-temanku yang sambil minum sambil mengatur napasnya yang turun-naik. Aku bertanya, “hai, kalian melihat pak Ary ?” Oouu, pak Ary berada di paling belakang bersama dengan Rony”, sahut si Anis, seorang mahasiswi yang bertubuh mungil. “Ada apa ya”, tanya Anis kepadaku. “Aku ingin menunggunya”, kataku. “Kalau begitu, kami duluan ya” kata Anis. “Silahkan”, jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelompok demi kelompok mahasiswa telah melewatiku, aku masih menunggu. Alhamdulillah, samar-samar ditengah kaburnya pandangan karena dihalangi oleh guyuan air hujan, nampak pak Ary berjalan beriringan dengan Rony, sang ketua rombongan, tanpa jas hujan, rasa kekhawatiranku akan kondisi pak Ary di tengah perjalanan dengan guyuran air hujan yang deras menjadi sirna, pak Ary nampak masih gagah, masih semangat, dan sambil ngobrol panjang lebar dengan Rony. “Eeh, kamu Dudy, kecapaian ya”, tegur pak Ary. “Masih fit”, kataku. “Ayo, kita lanjutkan perjalanan menyusul kelompok-kelompok mahasiswa yang di depan”, ajak pak Ary. “Siap pak”, jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekitar pkl 7 malam, aku, Rony dan pak Aryo sudah memasuki pinggiran desa yang menjadi lokasi praktek kuliah lapangan, badan kami basah kuyup dan kotor penuh lumpur. Aku merasa sangat dingin sekali, pada sebuah rumah yang terletak di pinggiran desa yang kami lalui, aku minta ijin pada Pak Aryo dan Rony untuk berhenti sejenak. “Kenapa harus berhenti di sini, itu tuh Balai Adat Baringan tempat kita akan menginap sudah kelihatan dari sini, artinya sudah dekat sekali”, kata kata pak Aryo dan Rony. “Tidak apa-apa pak, silahkan pak Ary dan Rony duluan, saya ingin istirahat sebentar pak”, jawabku. “Tapi rumah ini kosong, lebih baik kita langsung masuk ke Balai Adat saja”, ajak Rony. “Tidak Ron, aku pengin istirahat disini saja dulu sebelum masuk ke Balai Adat.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku merasa sangat lelah sekali, tubuhku dingin, sendi-sendi terasa penat dan kakiku terasa berat sekali untuk dilangkahkan. Aku duduk di pelataran, sambil melepaskan ransel dari punggungku, aku mengatur nafas, ku ambil air dingin dari botol dan kuminum, kunyalakan sebatang rokok. Aku bersandar pada dinding rumah sambil menghembuskan asap-asap rokok yang telah kuhisap. Di tengah kepenatanku, terdengar suara derit pintu yang dibuka. Aku kaget, sembari membetulkan posisi dudukku aku menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka. Eeeh, seorang gadis muncul dengan memegang lampu templok di tangannya. Sang gadis kaget ketika melihatku. “Eeeiii, ada orangnya ya”, katanya. “Mohon maaf, saya numpang istirahat di sini, lelah sekali”, kataku. “Kenapa istirahat di luar, tambah dingin nanti, masuk saja ke dalam, tidak apa-apa” ajak sang gadis. “Di sini juga masih bisa beristirahat”, kataku. Kulihat di belakang sang gadis telah berdiri seorang wanita separo baya yang juga mengajak aku beristirahat di dalam rumahnya. “Ayo nak, masuk saja ke dalam”, pintanya. Aku bangkit dari tempat duduk dan masuk ke dalam rumah. “Silahkan duduk” kata wanita separo baya tadi. Aku pun duduk sambil melonjorkan kaki yang terasa kaku.Kedua wanita bergegas masuk ke dalam, sesaat kemudian sang gadis menyuguhkan teh manis hangat di hadapanku. “Tidak usah repot-repot, diizinkan istirahat disini saja, saya sudah sangat terima kasih”, kataku. “Aaaah, tidak merepotkan nak, cuma ini yang dapat kami suguhkan”, kata sang wanita paro baya. “Silahkan diminum kak, biar badan kakak menjadi hangat”, sang gadis mempersilahkan aku meminum teh manis hangat yang disuguhkannya. “Terima kasih”, kataku sambil meminum teh yang disuguhkan. Ruangan dalam rumah agak temaram karena cuma disinari oleh lampu templok. Di sela-sela ketemaraman agak mencoba mecuri-curi pandang wajah sang gadis. Gadis yang cantik, rambut sebatas pundak dan berkulit putih, profil khas wanita pegunungan Meratus. Hatiku berkata, kecantikannya tidak kalah dengan gadis-gadis kota yang sering kulihat, keramahan, kesantunannya, bisa disandingkan dengan gadis terpelajar, mata yang indah, senyum yang selalu tersungging dari bibirnya yang indah, amboi, bukan main. Eeeeiit, rupanya sang gadis juga mencoba mencuri-curi pandang ke arahku, aku tidak tahu bagaimana penilaian dalam hatinya terhadap aku, si Dudy mahasiswa yang terkenal pemalu di kampus. Suasana sunyi sesaat. Aku mencoba memecah kesunyian dengan memulai lagi pembicaraa. “Ibu dan adik ini, apakah penduduk asli di sini”, tanyaku. “Ya, benar, kami memang penduduk asli di sini”, jawab mereka. “Lalu, adik ini apa hubungan dengan ibu”, tanyaku lagi. “Ooooouu, ini anak ibu satu-satunya”, kata sang wanita paro baya. Aku terus bertanya, “lalu, bapak mana bu ?”. “Bapak telah meninggal beberapa tahun yang lalu”, si gadis yang menyahut. “Aduh, maaf”, kataku. “Tidak apa-apa, toh setiap manusia juga mengalami hal yang sama dengan bapak si Maisi ini”, timpal sang ibu. “Ouuuu, rupanya nama sang gadis yang cantik dan ayu ini adalah Maisi”, kataku hanya dalam hati. “Bu, mohon maaf, saya ini berniat untuk membersihkan diri dulu sebelum menyusul teman-teman dan bapak dosen pembimbing saya yang telah duluan masuk ke dalam Balai Adat”, kataku. “Dimana ya bu, tempat sungai untuk mandi” tanyaku berlanjut. “Ada, di seberang jalan yang dilalui kakak tadi”, terdengar sahutan suara Maisi yang terdengar merdu olehku, “kalau kakak ingin ke sungai, Maisi bersedia mengantarkan kakak ke sungai itu”, lanjut Maisi masih dengan suara yang merdu. “Iya”, kata ibunya Maisi“, biar nanti Maisi yang mengantar adik ke sungai”. “Duh, berbunga-bunga rasanya hatiku, seorang gadis cantik dan ayu bersedia mengantar aku ke sungai, amboi !</p>
<p style="text-align:justify;">Maisi mengambil senter dan payung dan bersiap untuk mengantar aku mandi ke sungai. Di luar hujan mulai reda, namun masih meninggalkan gerimis, di sana-sini gelap, maklum lah di pegunungan yang berhutan seperti di sini listrik belum bisa dinikmati oleh penduduknya. “Ayo kak”, kata Maisi, “saya antar kakak ke sungai biar bisa mandi sepuasnya di sana”.</p>
<p style="text-align:justify;">Maisi berjalan di depan dan saya mengikuti di belakangnya. Dalam perjalanan ke sungai aku lebih leluasa memandang Maisi, bentuk tubuh ramping yang indah, sexy dan tinggi badan yang semampai. Aku bertanya kepada Maisi: “Maisi apakah kamu pernah sekolah”. Pernah kak, tapi cuma sampai tamat SD”, sahut Maisi. “Terus, kenapa tidak melanjutkan ke SMP”, kataku. “Terlalu jauh kak, kemudian biayanya juga tidak mendukung untuk Maisi meneruskan pendidikan”, suara Maisi terdengar pelan. “Sebenarnya Maisi pengin sekali bisa melanjutkan sekolah, tapi kesulitan yang dihadapi terlalu berat, kami cuma petani yang miskin kak”, lanjut Maisi. “Sekarang ini apa kegiatanmu Maisi”, sergahku. “Membantu ibu bekerja di ladang, kak”, suara Maisi masih terdengar pelan. Ada rasa iba bercampur haru di hatiku. “Kakak beruntung, tinggal di perkotaan dan mampu melanjutkan pendidikan”, Maisi melanjutkan perkataannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ucapan Maisi membuat perasaan hatiku lebih mengharu-biru. Dalam hati aku berkata bahwa Maisi hanyalah salah satu anak-anak gadis di daerah pedalaman yang mempunyai keinginan untuk bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi namun kondisi ekonomilah  yang menjadi salah satu kendala yang membuyarkan harapan dan impian mereka untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi tersebut. Aku yakin, masih lagi Maisi-Maisi yang lain yang mengalami nasib yang sama dengan Maisi yang sekarang ini sedang mengantarku ke sungai.</p>
<p style="text-align:justify;">Jalan menuju ke sungai sangat sempit dan licin, di kiri dan kanannya rindang dengan tanaman karet, pada lahan-lahan tertentu terdapat tanaman sayuran dan buah-buahan seperti, cabe, singkong, kacang tanah, kacang panjang, pisang dan cempedak.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada sebuah turunan jalan yang cukup dalam aku terpeleset dan jatuh terduduk. Maisi berteriak kecil, “hai, hati-hati kak, jalannya licin”, sambil mengulurkan tangannya ke tanganku untuk menarikku agar bisa berdiri. Dengan bantuan tarikan tangan Maisi aku akhirnya bisa berdiri. Ketika itulah aku dan Maisi saling beradu pandang, kami sesaat sama-sama terdiam, tetapi kemudian suasana itu dibuyarkan oleh suara Maisi, “tidak apa-apa kan kak”. “Tidak apa-apa, terima kasih”, jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak berapa lama sampailah kami di sungai yang di tuju. Untuk sampai di bibir sungai, aku harus menuruni tebing yang dalam, ternyata bibir sungainya berupa hamparan batu-batu kerikil. Suasana gelap. Maisi menunggu berdiri jauh di atas tebing. Aku pun mandi membersihkan diri, airnya yang sangat dingin serasa membuat tubuhku membeku, aku menggigil, aku tidak sanggup berlama-lama karena bertambah dingin saja rasanya air yang membasahi tubuhku. Sambil mengeringkan tubuhku dengan handuk, aku berjalan menaiki tebing untuk menyusul Maisi yang masih menunggu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gimana, dingin yang kak”, kata Maisi, sambutan sapaannya kepadaku. “Yah, dingin sekali”, sahutku, “yuk ! kita pulang”, ajakku kepada Maisi. “Air di sini sangat bersih”, kataku kepada Maisi. “Yah, begitulah, namanya juga air di pegunungan”, begitu jawab Maisi. “Berbeda sekali dengan air sungai yang berada di tempatku, kotor karena setiap hari menjadi tempat pembuangan sampah”, kataku. “Kak !, kakak sukakah dengan singkong yang direbus”, Maisi menyela pembicaraanku. “Wah !, suka sekali”, jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah perjalanan yang kami lalui, kami berhenti pada lahan tanaman singkong. Maisi menunjukkan kepadaku pohon-pohon singkong yang bisa dicabut. Aku pun mencoba mencabut salah satu pohon yang ditunjukkan Maisi. Aku berusaha mencabut, tetapi tidak bisa tercabut, kucoba lagi mencabutnya dengan sekuat tenaga, waduh, belum tercabut juga. Melihat aku tidak mampu mencabut pohon singkong tersebut, Maisi mendekati dan membantu aku mencabutnya. Berdua kami berusaha mencabutnya kembali. “Yuk, kak, kita cabut kuat-kuat”, kata Maisi. “Yuk, kita mulai dengan hitungan”, kataku juga. “Satu, dua, tiga”, kami menghitung bersama-sama. “Braaak”, terdengar suara pohon yang tercabut, tapi, aaaahhhhh, bersamaan dengan tercabutnya pohon singkong tercabut, kami pun terjengkang ke belakang, aku tertelentang, Maisi juga tertelentang, Aku berusaha untuk duduk, Maisi pun begitu juga. Sambil sama-sama membersihkan tanah yang menempel di pakaian kami, aku dan Maisi sama-sama tertawa. “Lucu ya kak”, kata Maisi. “He eh”, jawabku sambil tanganku memegang tangan Maisi. “Tanganmu tidak apa-apa kan Maisi”, kataku lagi. Entah mengapa, ada perasaan, aku tidak mau tangan Maisi terluka, aku tidak mau Maisi merasakan kesakitan. Terasa dingin tangan dan jari-jemari Maisi. “Tidak apa-apa kak”, jawab Maisi, sambil tangannya memegang dan memperhatikan tanganku. “Tangan kakak juga tidak apa-apa kan”, tanya Maisi sambil matanya memandangku seolah-olah meminta kepastian bahwa tidak terjadi apa-apa dengan aku. Dengan saling berpegangan tangan kami pun saling membantu untuk bangkit berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Di rumah Maisi aku merapikan diri dan bersiap untuk menuju Balai Adat di mana rombongan praktek kuliah lapangan kami menginap. Aku pun mengucapkan terima kasih atas keramah-tamahan Maisi dan juga ibunya. “Bu, saya mohon maaf kepada ibu dan juga Maisi karena lupa mengenalkan nama saya”, kataku, “ooh, iya, kamu belum memberitahu namamu”, sahut ibu Maisi sambil tersenyum, “siapa namamu”, lanjutnya. “Nama saya, Dudy, bu”, jawabku. Oh, iya, nak Dudy”, kata ibu Maisi. “Bu, saya, Dudy, mohon pamit untuk menyusul teman-teman dan dosen pembimbing saya yang sekarang sudah berada di Balai Adat”, kataku sambil membungkukkan diri kepada ibu Maisi. “Ya, silahkan nak Dudy, kami juga nanti akan di sana dan sekalian menginap di Balai Adat, karena kebiasaan kami kalau ada tamu yang berkunjung dan ingin bertemu dengan penduduk di sini, kami akan menyambutnya di Balai Adat dan menemaninya sambil juga menginap di Balai Adat itu”. “Ooh, begitu, dengan senang hati bisa kumpul bareng di Balai Adat”, kataku. Aku pun melangkahkan kaki untuk turun dari rumah Maisi, sesampai di pelataran, Maisi dan ibunya mengantarku sambil berkata, “nak Dudy, nanti singkong yang dibawa nak Dudy akan ibu rebus dan diantar ke Balai Adat. “Waduh, ibu, Dudy jadinya sangat merepotkan ibu”, katanya. “Aaahh, tidak juga nak Dudy”, kata ibu Maisi</p>
<p style="text-align:justify;">Belum beberapa alangkah aku berjalan terdengar suara memanggil di belakangku, walaupun dalam kegelapan, aku sangat mengenali suara itu, ya, suara yang sudah mulai akrab kudengar, itu suara Maisi, kataku dalam hati. “Kak Dudy, kak Dudy, tunggu Maisi kak”. Aku menghentikan langkahku, benar pendengaranku yang memanggilku adalah Maisi. “Ada apa Maisi”, kataku ketika kami sudah saling berhadapan. “A,a,, .. anu kak, boleh Maisi ikut bersama-sama kak Dudy pergi ke Balai Adat”, kata Maisi. Hatiku mendadak menjadi gembira dan sangat senang. Maisi, Maisi, kamu gadis yang sangat cantik, alangkah bahagianya aku, kamu selalu bersedia menemani aku, kataku dalam hati. “O, ya, kak Dudy sangat senang ditemani Maisi, tapi apakah Maisi sudah meminta ijin ke sini untuk menyusul kak Dudy”, kataku. “Iya kak, Maisi sudah meminta ijin ibu untuk menyusul kak Dudy, Maisi tidak akan berani menyusul kak Dudy kalau mendapat ijin dari ibu”, kata Maisi. Di perjalanan Maisi menceriterakan bahwa bahwa kampungnya sangat jarang dikunjungi orang luar karena tempatnya yang sangat terpencil, jauh di pedalaman pegunungan Meratus, jalan setapak yang tidak bisa dilalui kenderaan bermotor, terkecuali dengan berjalan kaki ditambah lagi dengan banyaknya sungai yang belum mempunyai jembatan. Selain itu, Maisi juga menceriterakan, di kampungnya ini rata-rata kawin dalam usia yang sangat muda, kalau seperti kak Dudy ini kata Maisi, di kampung ini pasti sudah beristri. Aku tersenyum. Kalau seperti Maisi ini, anaknya sudah berapa kataku sambil terus tersenyum, pasti sudah empat orang kataku tanpa menunggu jawaban Maisi. Aku berhenti, Maisi juga menghentikan langkahku, sembari aku bertanya pada Maisi, “Eh, Maisi, kamu sudah bersuami atau belum”, “Belum kak”, jawab Maisi. “Kenapa belum bersuami”, tanyaku lagi. “Tidak laku, karena Maisi gadis kampung yang jelek, miskin lagi”, jawab Maisi. “Aaah, kamu Maisi, biisaaa saja, hanya laki-laki yang matanya buta saja yang mengatakan Maisi seorang gadis yang jelek, kamu seorang gadis cantik, gadis manis, gadis santun, gadis ramah, pokoknya gadis yang sempurna”, kataku. Entah dari mana inspirasinya, kata-kata keluar meluncur begitu saja dari mulutku. “Seumur-umur Maisi, baru kak Dudy yang mengatakan demikian”, Maisi balas menjawab. “Benar Maisi!, apa yang dikatakan kak Dudy adalah berdasarkan apa yang kak Dudy lihat, mata kak Dudy masih normal kok, jadi kak Dudy mengatakakan yang sebenarnya”. kataku. Sungguh aku sendiri tidak mengerti, mengapa aku bisa berkata demikian, tidak pernah aku bisa berkata-kata demikian, karena aku termasuk pria yang pemalu, tapi di hadapan Maisi kok aku bisa berkata seperti itu. “Kak Dudy juga seorang pria yang gagah, ganteng, keren, ramah dan berbudi”, kata Maisi. “Aku tidak percaya”, kataku sambil nyengir. “Maisi juga berkata benar”, balas Maisi. “Walau pun demikian, kak Dudy senang, jujur kak Dudy akui, kak Dudy senang karena kata-kata itu keluar dari mulut dari seorang gadis yang cantik seperti kamu. Kami sama-sama tertawa. Tanpa terasa perjalanan kami sudah sampai di depan Balai Adat Baringan.</p>
<p style="text-align:justify;">Balai Adat Baringan merupakan bangunan yang bentuknya hampir segi empat dengan ukuran 20 x 20 meter, bertiang tinggi, beratap seng, dindingnya dari anyaman bambu dan lantainya dari kayu. Aku dan Maisi menapakkan kaki di tangga naik yang terbuat dari sebatang kayu yang setiap langkahan kaki diberi semacam lubang yang pas buat telapak kaki untuk tempat pijakan naik. Aku mencoba mengulurkan tanganku ke tangan Maisi untuk membantunya naik, Maisi pun mengulurkan tangannya agar dapat dipegang oleh tanganku. “Telapak tangan kak Dudy sangat halus dan lembut karena kak Dudy tidak pernah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang kasar, ya, tangan sekolahan, beda dengan telapak tangan Maisi yang kasar karena sering mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar baik di rumah maupun di ladang”, kata Maisi. “Dasar kamu, Maisi, dari tadi mencari perbedaan terus”, kataku sambil tertawa. Sesampai di dalam Balai Adat aku melihat teman-temanku duduk bergerombol berkelompok-kelompok. Aku mendengar yang dibicarakan mereka seputar apa saja dialami dalam perjalanan tadi siang. Banyak kejadian-kejadian lucu yang mereka ceriterakan. Melihat aku masuk bersama dengan seorang gadis setempat, teman-temanku pada menyapaku. “Hey, Dudy, tumben baru datang nih, kemana saja kamu”, tegur Azrul salah seorang temanku. “Oooouu, tadi sempat mampir di taman bunga kampung ini ya”, timpal si Fifi yang juga teman cewekku. “Iya tuh, lihat saja siapa yang di samping Dudy itu”, si Vina menambahi. Aku serasa dikeroyok teman-temanku. Aku cuma bisa mengangkat jari telunjuk dan menaruhnya secara tegak lurus di mulutku. “Ssssstttt”, aku mendesis, “jangan begitu ah, ini aku perkenalkan teman baru kita, namanya Maisi”, kataku selanjutnya. “Oooouu, Maisi namanya”, sahut Fifi. “Iya, selamat malam Maisi”, suara teman-temanku serempak. Maisi dengan sedikit malu-malu menjabat tangan temank-temanku satu per satu sambil kembali memperkenalkan namanya. Teman-temanku juga memperkenalkan namanya masing-masing kepada Maisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku ikut duduk nimbrung bersama-sama teman-temanku. Aku juga mempersilahkan Maisi untuk duduk bersama-sama teman-temanku. Tapi, Maisi memohon maaf karena dia juga akan bergabung dengan teman-temannya se kampung yang juga sudah hadir di dalam Balai Adat. Setelah Maisi beranjak dan bergabung dengan teman-temannya sendiri, si Azrul membisiki aku, “Dud, dimana kamu kenal gadis itu”. “Tadi waktu aku beristirahat di sebuah rumah di tepi jalan yang kita lalui tadi”, jawabku. Eh, rumah yang berada di bibir kampung yang dekat dengan Balai Adat ini kan”, kata Azrul. “Wah beruntung kamu Dud dapat gadis cantik nan ayu seperti Maisi itu”, kata Azrul lagi. “Kalah saingan kita-kita ini nih”, kata Vina dan Fifi. “Kalian ini bagaimana, Maisi kan cuma temanku, teman kalian juga, tidak lebih dari itu”, kataku mencoba menyembunyikan perasaanku terhadap Maisi. “Hebat kamu Dud, tidak seperti kalian-kalian ini”, suara Vina agak keras sambil telunjuknya mengarah ke semua teman laki-laki. “Memangnya kenapa kami-kami”, terdengar si Eduar yang duduk bersandar pada tiang di pojok ruangan sambil menghembuskan asap rokoknya. Fifi ikut bicara membantu Vina, “kalian ini bisanya cuma ‘pdkt’ saja”. “Apa ‘pdkt’ tuh”, kata Eduar. “Pdkt itu singkatan dari pendekatan, artinya kalian ini bisanya cuma pendekatan melulu tapi tidak pernah membuahkan hasilnya”, kata Fifi. “Ooouu itu”, kata teman-temanku laki-laki serempak. Suasana menjadi riuh. Aku menyela, “eh, kalian semua sudah makan atau belum”. “Ini nih, kami sedang merebus mie”, sahut Dimas yang sedang menunggui rebusan mie. “Kamu barangkali sudah makan ya di rumahnya Maisi”, kata Eduar. “Belum juga”, kataku. “Kalau begitu taruh mie kamu di dalam panci ini biar kita rebus bersama”, kata Fifi. “Nanti saja”, kataku. “Ooouu, kamu sudah kenyang ya karena memandangi wajah Maisi terus”, kata Vina. Waduh aku serba salah diolok-olok teman-temanku terus. Aku mencoba menghindar agar tidak terus diolok-olok oleh teman-temanku. Aku mencari alasan untuk menghindar. “Hai, kawan-kawan, aku tinggal dulu ya untuk menyusul pak Ary”, alasanku. “Oh, begitu, itu tuh pak Ary”, kata si Eduar, sambil menunjuk ke tengah ruangan tempat biasa penduduk setempat melaksanakan upacara adat. Aku pun segera beranjak menjauh dari teman-temanku menuju tempat pak Ary duduk. Sambil melewati kelompok-kelompok teman-temanku, mataku mengamati dimana gerangan Maisi duduk dengan teman-temannya sendiri. Akhirnya mataku bertumbukan dengan mata Maisi yang juga melihatku. Ooouu, di situ rupanya, kataku dalam hati. Aku mencoba lewat di depan Maisi yang sedang duduk bersama-sama teman-temannya. Tepat ketika aku lewat di depan Maisi, dia menegurku, “Kak Dudy, tadi ibu mengantarkan singkong rebus untuk kak Dudy”. “Oh ya, terima kasih sekali”, kataku sambil mendekati Maisi. Melihat aku datang, teman-teman Maisi menjauh dengan terlebih dahulu pamit kepadaku dan juga kepada Maisi. “Ini kak singkong rebusnya”, kata Maisi. “Alangkah enaknya kalau singkong rebus dimakan bersama-sama dengan mie”, kataku. “Boleh dicoba kak”, kata Maisi. Aku menyerahkan 2 bungkus mie yang tadinya kusimpan dalam ransel kepada Maisi. Maisi pun membantu merebus mie. Setelah mie matang, aku pun makan mie yang dicampur dengan singkong rebus bersama dengan Maisi. Melihat aku makan dengan lahapnya, Maisi menyela, “kasihan kak Dudy sangat kelaparan karena perjalanan yang melelahkan tadi siang”, katanya. “Tidak juga, kak Dudy makan kak Dudy lahap bukan karena kelaparan yang diakibatkan oleh perjalanan yang jauh siang tadi tetapi kak Dudy menjadi lahap makannya karena karena yang merebus singkong, ibunya Maisi dan yang merebus mie, Maisi sendiri”, kataku. Maisi tertunduk malu mendengar pujianku. “Ahh, kak Dudy ini, kata-katanya selalu membuat Maisi malu”, kata Maisi. Aku tertawa kecil. Mata Maisi memandangku, mata yang lugu namun indah, beberapa helai rambunya jatuh ke dahi, tangannya memain-mainkan sendok makan yang dipegangnya. Aku tidak tahu perasaan apa yang berkecamuk di dalam hati Maisi. Aku tidak tahu dan tidak mengerti perasaan wanita karena sejak aku mengenal bangku sekolah sampai dengan duduk di perguruan tinggi, aku belum pernah punya wanita yang merupakan teman dekat. Aku belum pernah jatuh cinta dengan teman wanitaku. Pertemuan dan apa yang kualami dengan Maisi, merupakan pengalamanku yang pertama. Aku pun tidak mengerti, perasaan apa yang berkecamuk dalam diriku ini, yang pasti aku sangat senang, sangat bahagia, bersama-sama Maisi. Andaikan aku pintar membuat puisi maka akan kutulis dan kurangkai sebuah puisi indah dan akan kubacakan di depan Maisi agar Maisi dapat mengetahui perasaan yang sedang berkecamuk dalam diriku.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah makan aku mohon ijin pada Maisi untuk meninggalkannya menemui pak Ary. “Maisi, kak Dudy mohon pamit meninggalkan kamu untuk mendatangi pak Aryo”, kataku pada Maisi. “Siapa pak Ary itu”, tanya Maisi. “Itu tuh, lelaki yang duduk di tengah-tengah ruangan”, kataku pada Maisi sambil tanganku menunjuk ke arah pak Ary duduk. “Pak Ary itu dosen pembimbing dalam kegiatan kami ini”. Aku melanjutkan kata-kataku. “Dosen pembimbing itu apa”, tanya Maisi kepadaku dengan lugu. Aku mencoba menjelaskan apa itu dosen pembimbing. “Begini Maisi, dosen pembimbing itu adalah orang yang memberikan, mengarahkan dan mengajari kami-kami ilmu pengetahuan yang merupakan bekal untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada kami-kami setelah menyelesaikan  atau menamatkan pelajaran”. Aku mencoba menjelaskan kepada Maisi. “Oooouu, itu, seperti guruku waktu Maisi sekolah dulu”, kata Maisi. “Yah, seperti itulah”, kataku kepada Maisi. “Baiklah aku pamit dulu ya”, kataku. “Silahkan kak”, jawab Maisi dengan senyum manisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Selamat malam pak”, aku memberi salam pada pak Ary. “Selamat malam, eh, kamu Dudy, gimana sudah terasa segar”, sahut pak Ary menyambut salamku. “Agak lumayan pak”, kataku sambil ikut duduk di samping pak Ary. “Dudy, malam ini kamu beristirahat saja dulu, tidak usah ikut melaksanakan wawancara dengan penduduk setempat yang sekarang sedang berkumpul di sini, tugas kamu kan besok berkeliling mengambil foto-foto dan membuat video yang menggambarkan keadaan lokasi praktek kuliah lapangan kita”, kata pak Ary.  “Oh, begitu pak, jadi saya bisa beristirahat malam ini, terima kasih banyak pak”, kataku pada pak Ary sambil beranjak dari tempat duduk mencari tempat yang kosong untuk beristirahat.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sebuah sudut yang berdekatan dengan pintu masuk pada salah satu bilik aku menggelar kantong tidurku kemudian merebahkan diri, telentang, mataku menerawang ke atas langit-langit balai adat. Aku mulai berpikir siapakah kira-kira besok hari yang bisa memanduku untuk mengambil foto-foto dan membuat video, kepala adat tidak mungkin karena akan sibuk melayani pertanyaan-pertanyaan dari teman-temanku yang mewawancarainya, para ‘balian (orang yang biasanya melaksanakan upacara-upacara adat)’ juga tidak mungkin karena juga sibuk membantu kepala adat, oh ya, aku akan mencoba minta bantuan Maisi, ya Maisi, Maisi kan penduduk setempat jadi pasti banyak mengetahui tentang desanya. Ketika aku ingat Maisi yang bisa menjadi pemanduku, terbayang kembali pertemuanku dengannya. Aku tersenyum sendiri, senyum bahagia. Selanjutnya bayangan Maisi mengantarku untuk masuk ke alam tidur yang indah.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersentak, getaran lantai dan bunyi kaki yang sangat banyak membuat aku membuka mata, oh, sudah pagi rupanya, mataku melihat sekeliling, rupanya teman-teman sudah bangun lebih dulu daripada aku. Aku melepaskan kantong tidurku dan melipatnya, kemudian duduk bersandar pada dinding. Kulihat jam tanganku, jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendek menunjuk angka 7. Pagi yang indah, kataku dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Winda dan Rony mendekatiku. “Dapat mimpi yang indah ya Dud”, kata mereka serentak sambil tertawa. “Tidak dapat mimpi apa-apa”, kataku sembari tersenyum pada mereka. “Eh, Dud, kamu dapat tugas apa dari pak Ary untuk hari ini”, kata Winda. “Tugas membuat foto-foto dan video yang dapat menggambarkan keadaan lokasi praktek kuliah lapangan kita”, jawabku sambil mengusap-usap mata. “Wah, kalau begitu kamu harus segera mandi, bersiap-siap melaksanakan tugas dari pak Ary, nanti keburu siang”, kata Rony. Siap komandan !, jawabku sambil berdiri. Aku pun mengangkat ransel dan pergi ke sungai untuk mandi. Selesai mandi aku kembali ke Balai Adat, ikut gabung makan mie rebus dengan teman-teman. Selesai makan aku mempersiapkan semua peralatan, kamera dan handycam. Sambil meletakkan tali kamera dan tali handycam di kedua bahu aku beranjak menuju di mana Maisi tadi malam bergabung dengan teman-temannya, kepalaku celingak-celinguk, tapi Maisi tidak terlihat olehku. Barangkali Maisi ada di rumahnya, kataku dalam hati. Aku pun turun dari Balai Adat setelah mohon pamit kepada pak Ary. Aku berjalan menuju rumah Maisi. Benar dugaanku, Maisi ada di rumahnya, dia sedang berdiri di depan pintu dengan baju kaos warna hijau daun dan celana jeans yang berwarna biru, rambutnya diikat ke belakang, tanpa polesan kosmetik, amboi, cantik sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">“Selamat pagi Maisi”, sapaku. “Selamat pagi kak Dudy”, sahut Maisi membalas sapaanku. “Tumben, hari ini Maisi cantik sekali”, pujiku. “Kak Dudy juga ganteng sekali hari”, kata Maisi membalas pujianku. “Maisi bisakah kamu membantu kak Dudy berkeliling kampung untuk menunjukkan tempat-tempat  yang nantinya akan difoto dan dibuat videonya” pintaku pada Maisi. “Dengan senang hati, Maisi akan menemani kak Dudy untuk melihat-lihat kampung ini, tapi Maisi minta ijin dulu ya sama ibu”, jawab Maisi. “Terima kasih Maisi, nanti biar kak Dudy yang akan memintakan ijin sama ibu untuk mengajak Maisi menemani kak Dudy”, kataku. Aku pun menemui ibunya Maisi untuk meminta ijin mengajak Maisi bersamaku. Syukurlah, ibunya Maisi mengijinkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudut demi sudut perkampungan, pemukiman, ladang, huma, kebun buah-buahan, kebun sayuran, pemakaman, tempat perburuan, semuanya ditunjukkan oleh Maisi. Aku pun membuat foto-foto dan videonya dari tempat-tempat yang ditunjukkan Maisi. Ketika jarum di tanganku menunjukkan sudah jam 1 siang, aku pun merasa sudah cukup membuat foto-foto dan video.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maisi, kak Dudy rasa sudah cukup kegiatan kak Dudy untuk hari ini, kamu juga mungkin sudah lelah, sekarang kita pulang”, ucapku kepada Maisi. “Benarkah sudah cukup yang harus dikerjakan oleh kak Dudy”, tanya Maisi. “Ya, sudah cukup”, jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah perjalanan pulang, Maisi mengajakku mampir di kebun buah-buahannya yang terletak di pinggiran bukit berdekatan dengan sungai. “Sekarang kak Dudy akan Maisi ajak untuk mampir dikebun buah-buahannya Maisi, kak Dudy tidak keberatan kan”, ajak Maisi sambil bertanya kepadaku. “Boleh, boleh, dengan senang hati”, kataku. “Kebetulan di kebun banyak buah cempedak yang sudah masak”, kata Maisi. “Benarkah:, kataku. “Benar kak Dudy”, jawab Maisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Benar yang dikatakan Maisi di kebunnya banyak sekali cempedak yang sudah matang. Aku pun mengambil 3 buah dengan memanjat pohonnya. “Yuk, mari kita makan cempedak sambil duduk di bebatuan yang berada di sungai itu”, ajakku pada Maisi. “Yuk, mari kak”, Maisi menyetujui usulku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil makan cempedak duduk di atas bebatuan yang berada di sungai, Maisi memandangku sembari berucap, “kak Dudy, Maisi iri melihat teman-teman wanita kak Dudy”. “Kenapa”, tanyaku. “Mereka sungguh beruntung bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi, mereka pintar-pintar, mereka santun-santun dan berbudi, Maisi ingin sekali seperti mereka, dulu Maisi waktu kecil bercita-cita menjadi perawat, karena di kampung ini tidak ada perawat”, kata Maisi. “Kan ada perawat di kota Kecamatan”, kataku. “Ya, benar, tapi kak Dudy kan telah mengalami perjalanan memasuki kampung ini, sangat jauh dari kota Kecamatan dan medannya sangat sulit”, kata Maisi. “Ya, benar juga, bagaimana kalau ada yang sakit atau ada yang mau melahirkan”, kataku melanjutkan. “Kalau ada yang sakit atau ada mau melahirkan, kami biasanya meminta bantuan balian, semua dilakukan secara tradisional”, kata Maisi. “Ooouu, begitu”, kataku. “Maisi pun bercita-cita selain menjadi perawat juga ingin mengajari anak-anak di sini membaca, menulis dan berhitung, supaya anak-anak menjadi pintar-pintar dan maju”, kata Maisi. “Untuk mewujudkan cita-cita Maisi, Maisi berusaha belajar dengan tekun dan rajin, Maisi numpang tinggal dengan keluarga Maisi di kota Kecamatan karena Sekolah Dasar (SD) hanya ada di kota Kecamatan”, Maisi meneruskan pembicaraannya. “Ketika Maisi duduk di kelas V, bapak Maisi meninggal terkena serangan malaria, hati Maisi hancur kak, luluh-lantak harapan dan cita-cita Maisi, tiada lagi tempat Maisi bergantung, patah sudah penopang cita dan tempat mengadu segala derita”, ucap Maisi mulai sesenggukkan. Aku memandang Maisi, terlihat bulir-bulir air matanya mengenang, wajahnya menengadah ke atas seolah-olah mengadukan derita, harapan dan cita yang sirna ke awan-awan putih di langit. “Cita dan harapan yang sudah mengental dan terpatri dengan kuat dalam jiwa Maisi sudah mulai goyah dan mulai terasa hampa kak Dudy”. “Air mata demi air mata mengiringi do’a demi do’a Maisi panjatkan kepada Yang Maha Kuasa agar Maisi diberikan ketabahan dan diberi kekuatan untuk bisa mewujudkan cita dan harapan Maisi”, ucap Maisi. Bulir-bulir airmata Maisi yang mengenang mulai menetes membasahi pipinya yang putih. Aku mengulurkan tanganku ke tangan Maisi, kupegang erat kedua telapak tangan Maisi dalam genggaman kedua telapak tanganku. Wajah Maisi yang semula menengadah ke atas sedikit demi sedikit diarahkan kepadaku, matanya memandang dalam ke mataku. “Kak Dudy, setelah bapak meninggal, ibu juga terus sakit-sakitan, sehingga semakin hancur jiwa Maisi, setiap hari Sabtu sehabis bubar sekolah, Maisi pulang ke kampung dengan berjalan kaki, subuh Senin Maisi kembali ke kota Kecamatan untuk masuk sekolah, itulah yang Maisi lakukan sampai Maisi menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD)”, ucap Maisi lirih.</p>
<p style="text-align:justify;">“Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar, Maisi pulang ke kampung untuk meminta ijin dan restu ibu untuk melanjutkan pendidikan ke SLTP”, Maisi meneruskan pembicaraannya. “Ketika Maisi mengemukakan maksud Maisi kepada ibu, ibu Maisi menangis dengan berucap, Maisi, ibu tidak bermaksud menghalangi keinginan Maisi, namun dari mana biaya kita dapatkan untuk sekolah Maisi, hasil panen hanya cukup untuk kebutuhan makan kita, hasil kebun juga tidak bisa dijual karena biaya untuk mengangkut lebih mahal daripada harga jualnya, kemudian buah-buahan juga demikian, ibu merangkul sambil membelai rambutku, Maisi juga menangis kak”, Maisi mengucapkannya padaku dengan bibir bergetar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maisi mencoba dan belajar untuk mengerti keadaan yang terjadi pada kami, hari-hari Maisi dihabiskan Maisi bersama ibu di ladang, walaupun waktu telah berlalu, harapan dan cita-cita Maisi belum terkubur, tetap menggelora dalam jiwa Maisi”, itu yang diucapkan Maisi sambil tetap matanya memandang mataku dengan dalam. “Tadi malam Maisi menangis kak memperhatikan kebahagian dan keceriaan teman-teman kak Dudy, teman-temanku yang beruntung, mengapa kebahagian dan keceriaan yang dinikmati teman-teman kak Dudy tidak menyinggahi Maisi, haruskah Maisi terus begini dengan harapan tinggal harapan, cita-cita tinggal cita-cita”, ucapan Maisi diringi dengan menggoyang-goyang genggaman tanganku. “Mengapa kak Dudy diam” kata Maisi kepadaku. Aku melepaskan tangan kananku yang sedari dari menggenggam telapak tangan Maisi, kuambil sapu tangan dari saku celanaku, ku usap airmata yang membasahi pipi Maisi. “Maisi, kak Dudy sungguh dapat mengerti dan menyelami dengan dalam perasaaan Maisi, kak Dudy dapat merasakan kehancuran perasaan Maisi dikarenakan kandasnya harapan dan cita-cita Maisi”, aku menyambung ucapanku pada Maisi, “sedih dan haru bercampur malu pada diriku sendiri”. “Mengapa kak Dudy merasa malu pada diri kak Dudy sendiri”, kata Maisi.  “Betapa kak Dudy merasa malu pada diri kak Dudy sendiri, karena seorang Maisi yang tinggal jauh dari perkotaan, jauh dari keramaian, jauh dari kemajuan, dengan segala kesederhanaan, ternyata mempunyai motivasi yang sangat kuat, harapan yang tidak kunjung pudar untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, mempunyai cita-cita yang mulia dan kepedulian yang tinggi untuk membantu sesama, sedangkan kami-kami yang saat ini sedang menikmati duduk di bangku pendidikan tinggi tidak sedikit yang belajar dengan santai, motivasi yang pas-pasan, ketekunan dan kerajinan yang rendah, terpengaruh dengan hura-hura kehidupan perkotaan, padahal orang-orang tua kami mendukung penuh dengan segala pembiayaan yang dimiliki, berharap kami bisa belajar dengan tekun dan rajin agar dapat menyelesaikan pendidikan dengan cepat serta dapat mewujudkan segala harapan dan apa yang dicita-citakan”, kataku pada Maisi. “Sungguh kak Dudy merasa malu kepadamu Maisi, dalam hal kerajinan, ketekunan dan ketabahan, kak Dudy mendapatkan pelajaran yang berharga dari Maisi”, kataku selanjutnya. Aku melepaskan cincin yang kupakai, cincin yang bertuliskan nama, tanggal, bulan dan tahun kelahiranku, kupasangkan ke jari tangan Maisi. “Maisi, kak Dudy sangat kagum dan bangga kepadamu”, kataku dengan mimik muka yang serius. “Kak Dudy, mengapa Maisi yang harus memakai cincin ini”, kata Maisi. “Cincin ini kak Dudy hadiahkan untuk Maisi sebagai tanda kekaguman dan kebanggaan kak Dudy pada Maisi”, kataku. “Maisi malu kak, Maisi dari keluarga miskin tidak bisa membalas hadiah yang diberikan kak Dudy ini”, Maisi berucap dengan mata yang masih memerah dan sembab. “Ketahuilah Maisi, segala yang apa yang telah diungkapkan dan dicurahkan oleh Maisi merupakan pelajaran dan bekal yang sangat berharga bagi kak Dudy”, kataku. “Terima kasih kak Dudy, cincin dari kak Dudy ini akan selalu Maisi pakai dan menjadi bagian dari jiwa kak Dudy yang ada dalam jiwa Maisi”, kata Maisi sambil mencium tanganku.</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari sudah mulai condong ke arah Barat, menunjukkan hari sudah beranjak petang. Kupegang tangan Maisi untuk membantunya beranjak dari tempat duduknya. “Yuk Maisi, mari kita pulang”, kataku pada Maisi. Dengan saling berpegangan tangan kami melangkahi bebatuan di sungai dengan sesekali mencelupkan kaki-kaki kami di air sungai yang jernih dan segar, kemudian sesekali juga kami berhenti memperhatikan ikan-ikan kecil yang berenang dalam kelompok-kelompok kecil yang seolah-olah berkejar-kejaran. Sungguh pemandangan yang mempesona.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Balai Adat aku lebih banyak diam, segala apa yang telah diucapkan Maisi tadi siang masih terngiang-ngiang di telingaku, begitu juga bayangan wajahnya selalu muncul di mataku, mata Maisi yang merindukan harapan dan asanya, dalam kesunyian, dalam kepedihan, dalam kesendiriannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Senin, 12 Juni 2006, merupakan hari dimana kami akan balik ke kampus meninggalkan lokasi praktek kuliah lapangan di Balai Baringan. Pagi hari itu, cuaca mendung, awan hitam yang tebal menggantung di angkasa, suhu udaranya juga dingin. Kami melaksanakan makan pagi bersama dengan masyarakat yang berada dalam lingkungan Balai Adat Baringan. Usai makan bersama, rombongan kami bersiap-siap untuk berangkat pulang dengan berjalan kaki menuju kota Kecamatan. Di halaman Balai Adat kami berkumpul, begitu dengan juga masyarakat setempat yang akan melepas kepergian kami. Pak Ary sebagai dosen pembimbing memberikan ucapan kata perpisahan yang kemudian disambut ucapan perpisahan juga oleh pemimpin adat Balai Baringan. Kata perpisahan dari yang mau meninggalkan dan yang ditinggalkan dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan dari kami berupa pakaian dan sembako kepada masyarakat yang berada di Balai Baringan. Penyerahan bingkisan dibarengi dengan bersalaman dari semua anggota rombongan kami dengan masyarakat setempat.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menempatkan diri berada di urutan paling belakang ketika bersalaman dengan masyarakat setempat. Satu per satu kusalami, akhirnya aku sampai pada posisi dimana Maisi berdiri. Kusalami tangan Maisi sambil aku berucap, “Maisi, kak Dudy mohon pamit, terima kasih atas kebaikan Maisi beserta ibu”. Lama kami bersalaman. “Sama-sama kak, bolehkah Maisi mengantarkan kak Dudy sampai di batas desa di pinggiran sungai dimana Maisi malam yang lalu mengantarkan kak Dudy mandi”, kata Maisi. “Dengan senang hati, mari Maisi”, sahutku. Aku berjalan bersama Maisi. Sesampai di pinggiran sungai dimana aku malam yang lalu diantar Maisi ke sini, kami berhenti. Aku berhadapan dengan Maisi. “Maisi, sekarang kak Dudy akan menyeberangi sungai yang berada di hadapan kita, sungai ini merupakan perlambang jalan kehidupan bagi kak Dudy dan juga bagi Maisi, banyak halang-rintang yang merupakan ujian-ujian hidup yang kita jalani, Maisi, kamu adalah guru kehidupan bagi kak Dudy, Maisi adalah kuntum bunga yang indah yang kak Dudy temui di Balai Baringan ini, doakan kak Dudy agar selamat dalam perjalanan, Maisi merupakan inspirator bagi kak Dudy dalam menyelesaikan studi, Maisi akan selalu berada dalam hati dan jiwa kak Dudy”, kata-kataku keluar dengan pelan. Wajah Maisi sendu, kembali terlihat guraian airmata yang menggenang di mata Maisi. Kusisihkan helai-helai rambut Maisi yang menjuntai di dahinya, kucium dahinya yang bening, tanpa kusadari airmataku pun ikut menetes membasahi wajah Maisi, Maisi memandangku dengan dalam, dia terisak. “Maisi gadis desa yang berada di kejauhan, dari tempat yang sunyi ini akan selalu mendoakan kak Dudy selamat di perjalanan, selamat sampai di tempat tujuan, selamat dalam menempuh studinya, dan semoga tercapai semua harapan dan cita-cita kak Dudy, semoga tidak tidak melupakan Maisi dan juga kami-kami masyarakat yang tertinggal disini, diantara serpihan-serpihan cita dan asa Maisi ada selipan kebanggaan karena cita dan asa Maisi itu dapat Maisi titipkan kepada kak Dudy, cita dan asa memajukan anak-anak bangsa, cita dan asa keperdulian terhadap sesama”, itu yang diucapkan Maisi kepadaku. “Maisi, berat rasanya kakiku melangkah, hampa rasanya relung hatiku, tak ingin rasanya aku meninggalkan kamu, tapi perpisahan ini harus terjadi, percayalah, jiwa, asa dan cita Maisi selalu bersemayam dalam hati kak Dudy”, kata-kataku terucap lirih ditingkahi oleh isak tangis sedih Maisi. “Kak Dudy percaya dan yakin, di dalam diri kamu tersimpan butiran-butiran mutiara kehidupan, kekuatan, keprihatinan dan ketabahan”, aku melanjutkan kata-kataku. Tangan Maisi memegang tanganku dengan erat seolah-olah enggan melepaskan kepergianku, diciumnya tanganku dengan dalam, dalam sekali. “Baiklah kak Dudy, silahkan kak Dudy ,menyusul teman-teman kak Dudy yang barangkali sudah mulai jauh jaraknya dengan kak Dudy”, kata Maisi. Maisi melepaskan tanganku dari pegangannya dengan perlahan namun wajah kesedihan tetap menyelimutinya. Aku pun menuruni tebing dan menyeberangi sungai, ketika berada di tengah-tengah, aku membalikkan badan, kulihat Maisi masih berdiri dengan tangannya berpegangan pada pokok pohon kayu tumbang, kutaruh telapak tangan di mulutku kemudian kulambaikan pada Maisi, Maisi pun membalasnya. “Selamat jalan kak Dudy”, suara Maisi dari tepian sungai. “Selamat tinggal Maisi, selamat tinggal guru kehidupanku, selamat tinggal kuntum bungaku yang indah”, balasku dengan suara yang nyaring.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=99&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/30/kuntum-bunga-yang-indah-di-balai-baringan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CINTA YANG PUDAR BERSINAR KEMBALI (4)</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/21/cinta-yang-pudar-bersinar-kembali-4/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/21/cinta-yang-pudar-bersinar-kembali-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 16:07:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh: Hairiyadi (Nama-nama, tempat, peristiwa dan ceritera cuma rekaan penulis)     Pak Aryo memberikan kesempatan kepada Leny untuk larut dalam perasaan kesendiriannya, perasaan jauh dari keluarga, tiada tempat untuk berbagi duka dan berbagi suka, di saat yang sama Leny mencoba berbagi perasaan kesendirian itu dengan sosok yang dipandangnya sebagai jelmaan orang dekat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=84&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh: <em><strong>Hairiyadi</strong></em></p>
<p><em>(Nama-nama, tempat, peristiwa dan ceritera cuma rekaan penulis)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p> </p>
<p style="text-align:justify;">Pak Aryo memberikan kesempatan kepada Leny untuk larut dalam perasaan kesendiriannya, perasaan jauh dari keluarga, tiada tempat untuk berbagi duka dan berbagi suka, di saat yang sama Leny mencoba berbagi perasaan kesendirian itu dengan sosok yang dipandangnya sebagai jelmaan orang dekat yang mau mengerti kegundahan yang selama ini terpendam dalam dirinya.<span id="more-84"></span> Pak Aryo sendiri memperlihatkan rasa simpatinya atas masalah yang dihadapi Leny. Sesaat pak Aryo ikut terlarut dalam perasaan Leny, cuma sesaat, kemudian dia mencoba membangunkan ketegaran dalam jiwa Leny. Pak Aryo berkata dengan pelan: “Leny, kesendirian janganlah menjadikan diri kita merasa ringkih dan papa, sadari oleh kamu bahwa kesendirian adalah keharusan yang merupakan kodratnya Tuhan Yang Maha Kuasa”. Leny diam dan tertunduk, rambutnya yang panjang terjulur ke bawah menutupi sebagian wajahnya. “Leny”, kata pak Aryo, “Leny mendengar apa saya ucapkan”. Sesaat tidak ada sahutan dari Leny, pak Aryo kembali mengulanginya, “Leny”, ulang pak Aryo. “Ya, pak”, sahut Leny, juga dengan suara yang tetap pelan. “Leny mendengar apa yang saya ucapkan” kata pak Aryo. “Ya, pak, Leny mendengar apa yang bapak katakan tetapi Leny tidak mengerti apa yang bapak maksudkan dengan bahwa kesendirian adalah keharusan yang merupakan kodratnya Tuhan Yang Maha Kuasa”. “Ya”, kata pak Aryo, “maksud saya adalah ‘kesendirian’ bagian-bagian hidup yang pasti kita jalani, coba Leny sadari, nanti ada saat-saat kita harus sendiri, kesendirian ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayangi dalam hidup kita, ditinggalkan oleh orang  tua atau saudara kita karena dipanggil oleh Yang Maha Kuasa misalnya. “Ketika itu terjadi maka kita tidak boleh gamang dan oleng, kita harus tetap tegar, tetap semangat, tetap optimis, dimana ada saatnya kita harus bersama dengan orang-orang yang kita sayangi, dan pada saat-saat yang lain kita harus berpisah dengan mereka, dan di situlah kita tertinggal dalam kesendirian”, begitu kata pak Aryo. “Leny, kamu bisa sekarang mengerti apa yang bapak maksudkan”, tanya pak Aryo pada Leny. “Ya, pak, saya jadi bisa mengerti apa yang maksudkan, terima kasih ya pak, bapak telah menggugah kesadaran saya dalam perasaan kesendirian ini, saya harus tetap tegar, tetap semangat dan tetap optimis”, jawab Leny. Leny melanjutkan ucapannya: “saya akan berusaha seperti apa yang dimaksudkan oleh bapak, doakan Leny ya pak”. “Insya Allah Len, bapak akan selalu mendoakan Leny”, jawab pak Aryo. “Ingat Len, setelah selesai studi, kamu nanti akan menjadi orang tua dari anak-anak didik kamu, orang tua dari anak-anak yang kamu lahirkan, menjadi pendamping suamimu, oleh sebab itu ketegaran, semangat, dan optimisme adalah modal dasar kamu”, lanjut pak Aryo”. “Ya pak”, sahut Leny. “Oke, Leny, bapak kira cukup dulu ya pertemuan kita hari ini, nanti kalau kamu sudah menyelesaikan tulisan Bab III silahkan hubungi bapak kembali”, kata pak Aryo. “Ya pak”, sahut Leny. “Terima kasih atas bimbingan bapak dan waktu yang diberikan oleh bapak untuk saya”, kata Leny sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Aryo. Selanjutnya, sambil menjabat tangan pak Aryo, Leny berucap, “Leny, mohon maaf pak, atas segala ucapan dan sikap Leny yang dianggap lancang dan tidak berkenan di hati pak Aryo”. “Sama-sama”, kata Aryo. Mereka secara bersamaan berdiri dari tempat duduknya masing-masing dan beranjak meninggalkan tempat mereka berbincang-bincang.</p>
<p style="text-align:justify;">Matahari semakin meninggi, udara bertambah panas, daun-daun dari pepohonan yang mengitari kampus pada berguguran, burung-burung gereja yang biasanya lincah berterbangan pada berdiam diri di sela-sela ranting-ranting pohon yang teduh.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak Aryo melangkahkan kakinya menuju ke sebuah warung makan yang terletak di samping kampus, sesampai di mana banyak warung makan berjejer, mata pak Aryo memandang mengitari warung-warung makan. Hampir seluruh warung makan penuh diisi oleh mahasiswa yang juga mengisi perutnya. Ternyata, selain mahasiswa, di warung-warung makan tersebut diisi juga oleh para orang tua mahasiswa baru yang makan sambil mengantar dan menunggu anaknya yang sedang berkonsultasi dengan dosen penasehat masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Warung yang terletak di tengah-tengah jejeran warung-warung, tempat yang dipilih oleh pak Aryo untuk melepaskan rasa laparnya. Pak Aryo memilih bangku duduk paling pojok, kebetulan hanya itulah bangku duduk yang tersisa. Walau pun bangku duduk yang dipilih pak Aryo paling pojok namun tepat di atas plafon menempel kipas angin, sehingga dapat mengurangi rasa panas dalam warung makan. Sambil menunggu makanan yang dipesan, pak Aryo melepaskan kancing bajunya paling atas untuk memberikan tiupan angin dari kipas ke dalam badannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Suasana dalam warung makan sangat ramai dengan suara-suara mahasiswa. Mereka sambil makan saling mengutarakan kegembiraan, kekesalan, kesulitan-kesulitan yang dialami dan aktivitas-aktivitas masing-masing. Terdengar celoteh seorang mahasiswi cantik dengan balutan pakaian yang mahal untuk ukuran mahasiswa. Dia dengan muka cemberut mengeluhkan banyaknya tugas yang harus dikerjakannya, ditambahkan lagi dengan dikejar-kejar untuk menyelesaikan praktek mengajar di sebuah SMA di kota ini. Mahasiswi temannya yang duduk di sebelahnya menimpali, “aku juga mengalami hal seperti kamu, tapi aku tambahannya lebih parah lagi, tulisan Persiapan Mengajarku selalu mendapat banyak coretan dari Dosen Pembimbing Praktek Mengajar dan Guru Pamong, sehingga aku harus bolak-balik menulis kembali dan bolak-balik menghubungi dosen pembimbing dan guru pamong, hampir mau gila rasanya aku ini”. Di tempat duduk yang lain, seorang mahasiswa laki-laki yang kelihatannya seorang mahasiswa yang tekun dengan tongkrongan pakai kacamata tebal, rambut dipotong pendek tersisir rapi, pakaian necis disterika rapi, sepatu kulit yang mengkilap mengemukakan kegembiraannya, karena semua tugas-tugas laboratoriumnya sudah diselesaikan dan lebih mengembirakan lagi semuanya tugas-tugas tersebut mendapat nilai A. Temannya duduk memuji, katanya,” kamu memang pantas mendapatkan nilai A karena kamu mahasiswa paling rajin dan paling cerdas di kelas, beda sama aku, kalau aku nilai tugas laboratorium tidak stabil, ada yang mendapat nilai D, ada yang nilainya B+, malahan ada yang nilai E, yang paling hebat aku ini seumur-umur belum pernah mendapatkan nilai A” katanya sambil terkekeh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=84&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/21/cinta-yang-pudar-bersinar-kembali-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISAH KAI SU&#8217;RAUP MAKAN SATE</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/17/kisah-kai-suraup-makan-sate/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/17/kisah-kai-suraup-makan-sate/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 03:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/17/kisah-kai-suraup-makan-sate/</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh: Hairiyadi Kisah dalam bahasa Banjar Pahuluan   “Umaialah kai, imbah julak Su’raup nitu kasakitan, hamuklah sidin wan pian kai haji”, jar bubuhan kami sambil tatawaan. “Nyata haja ah” ,jar kai haji Uncul, diragapnya aku, imbah tu di igutnya talingaku bahimat”. “Naham ! badarahanai talinga pian lah kai haji”, jar kami. “Alhamdulillah ! kada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=110&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Ditulis oleh: <em><strong>Hairiyadi</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span style="font-style:italic;">Kisah dalam bahasa Banjar Pahuluan</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Umaialah kai, imbah julak Su’raup nitu kasakitan, hamuklah sidin wan pian kai haji”, jar bubuhan kami sambil tatawaan. “Nyata haja ah” ,jar kai haji Uncul, diragapnya aku, imbah tu di igutnya talingaku bahimat”. “Naham ! badarahanai talinga pian lah kai haji”, jar kami. <span id="more-110"></span>“Alhamdulillah ! kada tadarah” jar kai haji Uncul. “Taguh kah pian kai maka kada badarahan di igut julak Su’raup tadi”, jar kami. Kai haji Uncul baucap: “kada inya taguh pang aku ini, tapi si Su’raup nitu giginya rumpung di tangah-tangah, atas bawah ha pulang, bakas balajar ba sampida tarujuk atawa tarampak batang langsat di pinggir jalan, muhanya mantipak batangkup wan batang langsat tadih, pas ai luang hidung wan muntungnya tadarah”. Kai haji Uncul manarusakan pandirnya: ‘aku pas malihat kajadian Su’raup marujuk batang langsat tadih, pahin nitu aku pas handak tulak maunjung, kusasahi ai, maksudku handak manulungi, babaya kulihati Su’raup nituh siup tatilantang, muntungnya banganga’an, di parak kapalanya bahamburan pina mamutih, nah ! jar ku, agin nai intan nang bahamburan nitu, imbah tu, ku ipi’i ai tunggal butingan, ku itihi bahimat, hamar nah sakalinya lain intan”. “Nangapa sakalinya kai nang mamutih tadih”, jar kami. “Nah ! tahulah bubuhan ikam, nang mamutih nangitu sakalinya giginya Su’raup nang rapai”. “Makanya am, talingaku kada badarah di igut Su’raup nangitu” jar kai haji Uncul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kai haji Uncul manarusakan pamandirannya: “kira-kira samingguan kalo ah, imbah kajadian Su’raup marujuk batang langsat, pinanya waras sudah muntungnya, aku asa maras wan inya, kuniatakan handak mahimungi Su’raup, caranya, inya handak ku taraktir makan sate di pasar”.<span>  </span>“Umai ! baik hati wan darmawannya lah hampian nangini kai”, jar kami. “Kami nih, ngaran masih kakanak, biar rancak bakalahi tapi satumat haja bamusuhan, paling lawas sa jam, imbah hitu bakakawalan nai pulang”, jar kai haji Uncul. “Tarasukan pang kai kisah pian mantaraktir julak Su’raup makan sate”, jar kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kutarusakan lah kisahnya”, jar kai haji Uncul. “Siiip !, dilanjut !”, jar kami taimbai baucap. Kai haji Uncul manarusakan kisahnya: “kubawa’i ai Su’raup ka pasar mancari warung sate, di pasar nangitu ada langganan aku mun handak mamakan sate, ngarannya warung sate ‘basisiut’, ku bawa’i ai Su’ raup ka warung nituh, sampai di warung, kami dudukan batatai, aku minta sapuluh cucuk wan lontongnya, kaya itu jua Su’raup ku pasanakan sapuluh cucuk jua wan lontongnya”. “Umai ! kulihati si Su’raup baluman mamakan, hanyar mahadangi nang ampun warung ‘basisiut’ mambanamakan satenya, si Su’raup sudah balilihan liur sampai titik ka dalam kantung bajunya. Nang bajualan sate kabulujuran bibinian, balu ha pulang”, jar kai haji Uncul. “Jablai ! kah kai”, jar kami. “Iya ai ! kalo, jablai, jar kakanakan wayahini”, manyahut kai haji Uncul. “Imbah tu pang kai”, jar kami. “Imbah disurungi ulih nang ampun warung, baimbai ai kami mamakan sate, pina kicap-kicap wan takulur-kulurnya muntung Su’raup manggugut sate tunggal bilahan”. “Imbah tuntung mamakan sate, kanapa kah Su,raup maka bamamai wan nang ampun warung sambil batukup muntung”, jar kai haji Uncul. “Hau ! kanapa jadi julak Su’raup bamamai wan ampun warung, nangapa salahnya”. jar kami. “Kaya ini sababnya”, jar kai haji manjalasakan wan kami. “Su’raup bamamai-mamai, umai lah jar Su’raup, dasar ikam ni jablai maulah bumbu sate sing masinan, kabanyakan uyahnya, kahandakan balaki kalo ikam nih, jar Su’raup, maka asa tahirup banyu laut ha ah, ikam pang Cul, marasalah bumbu sate kamasinan nanginih, kahada ujarku, kanapa aku haja yu nang marasa kamasinan, cuba pang buka muntung ikam tuh. “Oouuu !, sakalinya muntung Su’raup badarahan banar”, jar kai haji Uncul. “Naham ! kanapa jadi muntung julak Su’raup badarahan”, jar kami. “Sababnya “, jar kai haji Uncul, “ulih karana Su’raup tasalah cara mamakan sate, urang tu mamasukan cucukan sate ka muntung, bahalang, ai Su’raup kada bahalang, inya mamasukan babujur, jadi pas himpilan daging sate nang pahabisan, lalu ai bilahan hundayang cucukan sate tapanjang tamasuk ka muntung, sampai-sampai tacucuk butuh rakungan, salain itu”, jar kai haji Uncul, “kajadian bahimat ma igut daging sate, padahal Su raup kada ada bagigi, pas ai gusi pada gusi bahangkup, han ti itu nang maulah muntung Su’raup badarahan”. “Tarusakan kai kisahnya”, jar kami. “Sakalinya Su’raup marasa bumbu sate kamasinan kada inya marga bumbu satenya kabanyakan uyah, tatapi gara-gara darah nang di muntung inya nitu nang maulah bumbu sate asa masin banar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> “Umai ! lah kai, kasiannya nang bajualan sate kana mamai Su’raup”, jar kami. “Tatawaan aku wan nang ampun warung imbah tahu kanapa jadi Su’raup mamadahakan bumbu sate kamasinan nitu. Jar kai haji Uncul.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> “Tarusakan pang kai kisahnya”, jar kami. “Sadang dahulu, tu nah urak parak handak bang sambahiyang Isya, kita sambahiyang dahulu, isuk kita kutarusakan pulang kisahnya”, jar kai haji Uncul</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=110&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/17/kisah-kai-suraup-makan-sate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISAH SU&#8217;RAUP, ACIL RAUPIQAH, UTUH ASBAK WAN UTUH PA&#8217;ASIAN</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/16/kisah-suraup-acil-raupiqah-utuh-asbak-wan-utuh-paasian/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/16/kisah-suraup-acil-raupiqah-utuh-asbak-wan-utuh-paasian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 02:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/16/kisah-suraup-acil-raupiqah-utuh-asbak-wan-utuh-paasian/</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh: Hairiyadi (Kisah dalam bahasa &#8216;Banjar Pahuluan&#8217; memenuhi permintaan calon pendeta Sufian Akbar)   Tuturan urang bahari nang rancak dikisahakan wan kakanakan atawa wan urang nang a’anuman banyak baisi palajaran sabagai cuntuh kahidupan. Kabanyakan ujar urang wayahini ba”tema”kan  sikap parilaku kita dalam manjalani kahidupan. Nilai nang disampaikan adalah “nilai-nilai nang dikatujui” wan “nilai-nilai nang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=109&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Ditulis oleh: <strong><em>Hairiyadi</em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span style="font-style:italic;">(Kisah dalam bahasa &#8216;Banjar Pahuluan&#8217; memenuhi permintaan calon pendeta Sufian Akbar)</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tuturan urang bahari nang rancak dikisahakan wan kakanakan atawa wan urang nang a’anuman banyak baisi palajaran sabagai cuntuh kahidupan. Kabanyakan ujar urang wayahini ba”tema”kan<span>  </span>sikap parilaku kita dalam manjalani kahidupan. Nilai nang disampaikan adalah “nilai-nilai nang dikatujui” wan “nilai-nilai nang dianggap “maniniwah” atawa “palalaiannya” pada urang banyak.</span></p>
<p><span id="more-109"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di kampung kami pahuluan sana, ada kaluarga ba ampat baranak, nang laki ngaran sidin “Suraup”, nang bini ngaran sidin “Siti Raupiqah”, nang anak sidin lalakian panuhanya ngarannya “Utuh Asbak”, wan anak lalakian sidin nang bungsu ngarannya “Utuh Pa’asian” Kabalujuran rumah kaluarga bubuhan sidin tuh bahihigaan wan rumah kami. Urang sa kampungan kada tapi tahu asal-usul ngaran bubuhan sidin nitu, kanapa jadi kaya itu baisi ngaran, ulih sabab itu kami handak mencuba batatakunan wan nang tuha-tuha, bahara ai ada nang pina tahu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pahinan bubuhan kami dudukan di lantai palataran langgar imbah tuntung sambahiyang maghrib, sambil baricauan, umpat duduk jua kai haji “Uncul”, nang datang pina babukaan kima atas baju sanghai sidin, bakikipas ha pulang, pinanya sidin kapanasan habis mawirid dalam langgar. “Nah ! ini pas banaram”, jar bubuhan kami, pina taimbaian ha baucap sambil maitihi kai haji Uncul. “Nangapang ti habar”, jar kai haji Uncul, sambil sidin badirian. “Duduk pang dahulu kai”, jar kami. Kai haji Uncul umpati duduk sambil sidin basandar ka tayang samin langgar, pina kanyamanan ha sidin, sualnya tawing samin langgar dingin kalo.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> “Ayo !”, jar kai haji Uncul, “aku umpat jua nah bapapandiran wan bubuhan nikam nang anum-anuman nih, nangapa ti nang dipandirakan”, jar kai haji Uncul pulang. “Kaya ini nah !”, jar bubuhan kami, “kami nih handak batakun asal-usul ngaran salah satu warga kita di kampung nangini”, jar kami pulang. “Siapa garang tu”, jar kai haji Uncul. Kami manyahut: “nangitu nah, julak Suraup, acil Siti Raufiqah, Utuh Asbak wan Utuh Pa’asian. “Ooouu ! nangitu kah nang handak ditakunakan bubuhan ikam ti”, jar kai haji Uncul. “Kabulujuran, aku nginih bilang saumur wan Suraup, wan Siti Raupiqah nitu jua” jar kai haji Ucul. “Bahari, pahinan sama-sama kakanak, Suraup kawalku bakalikir, mun Siti Raupiqah kawalku bamamainan pangantin-pangantinan”, jar kai haji Uncul manarusakan pamandiran sidin. Sambil malikit ruku merk &#8230; (kada bulih disambat, kaina dipadahakan pasan sponsor), kai haji Uncul mangisahakan pahinan sidin kakanak bakakawalan wan Suraup, wan Siti Raupiqah jua. “Mun wan Su”raup, aku neh rancak banar bakalahi, sababnya bila bakalikir aku rancak banar kalah wan inya tuh”. “Kararancakan kalah, muar aku wan inya, aku barancana handak mambalas kakalahan aku wan Su’raup, pahinan ada kasampatannya, ku bawa’i ai Su’raup bakalikir”. “Kabulujuran Su’raup mahakuni, nah iya am, dalam hatiku, awas kam Su’raup ai, biar ha tahu rasa”. Pahinan giliranku mangatik kalikir, kukekerai kalikir Su’raup, pina musti ha aku mengeker kalikir sidin, padahal mataku mangeker nang lain”.<span>  </span>“Su’raup badangkak basubarangan wan aku, mahadangi aku mangatik kalikirnya, aku mangumpulakan hinap, imbah asa cukup hinap, kukatikakanai kalikirku gancang-gancang”. Tus !, bunyi kalikir malayang kukatik, laju banar kalikirku maluncur”. “Aduuuh, aduuuhh, aduuuhh, jar Su’raup, sambil badiri bahantak-hantak batis, pina taulai-ulai ha awak inya, tangannya maingkuti salawar”. “Ai ! Ai Ai !, kanapa ?”<span>  </span>jar ku, piragah takajut jua. “Ikam tu culas, awas ha lah”, jar Su’raup. “Kanapang ti”, jar ku. “Ikam basinghaja tuh, nang ikam tuju kada kalikirku, tapi nanginih, sambil manunjuk ka salawar sidin”. “Kana nang mana” jar ku. “Ini nah, kana bigi ‘bakso’ ku”, jar Su’raup, sambil muhanya takuringis. “Ma’aflah”, jar ku, “kada basinghaja”. “Tapi dalam hatiku, han hanyar tahu ikam Su’raup ai”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span style="font-style:italic;">“bamandak dahulu nah, kaina ai ditaruskan, masih panjang lagi kisahnya”</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=109&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/16/kisah-suraup-acil-raupiqah-utuh-asbak-wan-utuh-paasian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DOSEN KELAS: OBROLAN WARUNG KOPI</title>
		<link>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/15/dosen-kelas-obrolan-warung-kopi/</link>
		<comments>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/15/dosen-kelas-obrolan-warung-kopi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 15:27:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hairiyadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hairiyadi.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Sehabis memberi kuliah di kampus. saya mempunyai kebiasaan yang susah ditinggalkan, yakni memberikan revitalisasi fisik dan batin dengan meminum secangkir kopi. Kebetulan sehabis memberikan salah satu mata kuliah, hari sangat panas apalagi saat itu memasuki masa musim kemarau maka kebiasaan yang susah dihilangkan tadi seolah-olah mendapat dukungan yang kuat agar sesegeranya mengayunkan kaki ke warung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=81&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sehabis memberi kuliah di kampus. saya mempunyai kebiasaan yang susah ditinggalkan, yakni memberikan revitalisasi fisik dan batin dengan meminum secangkir kopi. <span id="more-81"></span>Kebetulan sehabis memberikan salah satu mata kuliah, hari sangat panas apalagi saat itu memasuki masa musim kemarau maka kebiasaan yang susah dihilangkan tadi seolah-olah mendapat dukungan yang kuat agar sesegeranya mengayunkan kaki ke warung kopi yang banyak berjejer di samping kampus.</p>
<p style="text-align:justify;">Suasana warung kopi disamping kampus memang berbeda, di sana selain sebagai tempat melepaskan rasa haus dan lapar, juga menjadi tempat ajang ngobrol dari obrolan yang ringan seperti guyonan ala mahasiswa sampai dengan obrolan berat yang bernuansa ilmiah dan kadang terselip juga obrolan-obrolan yang bernuansa politik. Memang yang banyak nonkrong di sana umumnya mahasiswa-mahasiswi, tetapi bukan berarti dosen-dosen haram nongkrong bergabung dengan mahasiswa-mahasiswi. Harga makanan dan minuman yang dipatok oleh “acil warung” (istilah mahasiswa-mahasiswa) memang sesuai dengan kantong mahasiswa-mahasiswi yang banyak tergantung kiriman dari orang tua di kampung.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang asyik-asyiknya menghirup “nestcape” ramuan acil warung sembari ngobrol dengan beberapa mahasiswa dengan pakaian parlente sangat gagahnya turun seorang  dosen dari mobil yang tidak kalah kerennya “nissan terrano king road” mengkilap ikut bergabung di coffe shop bawah pohon. Beliau adalah salah satu dosen pada salah satu program studi di fakultas yang sama dengan saya, kebetulan juga satu angkatan dengan saya diangkat oleh pemerintah sebagai dosen. Sapaan bernada guyon langsung meluncur dari mulut beliau untuk saya (karena saya kata mahasiswa adalah dosen yang pinter meluncurkan guyonan-guyonan segar di tengah suasana perkuliahan yang kadang-kadang membuat otak kepayahan).</p>
<p style="text-align:justify;">Kedatangan pak dosen yang keren tadi menyeret pembicaraan dari yang guyonan ke pembicaraan yang serius, nyaris sebuah kritik. Wah &#8230;. kritik apa’an tuh ! Pengen tahu &#8230;.. bolehlah, karena isi pembicaraan beliau menurut saya patut direnungkan dan dieksplorasi oleh dosen-dosen (yang sebagian masih memposisikan dirinya sebagai mahadewa, loh koq begitu &#8230;. iya lah &#8230;.. karena merasa serba tahu semuanya, bisa menentukan mahasiswanya lulus atau gagal walaupun sang mahasiswa sudah 5 kali lebih mengikuti kuliah yang sama dari sang mahadewa). Pembicaraan tadi dielaborasi juga oleh para mahasiswa yang tergabung dalam komunitas coffe shop bawah pohon.<br />
Kata pak dosen yang keren, di program studi saya (maksudnya saya yang nulis hasil obrolan ini) ada beberapa dosen kelas, saya jadi bingung mengapresiasi apa maksud kata beliau dosen kelas tadi, lalu saya mencoba meminta penjelasan apa yang beliau katakan tadi. Beliau malah balik bertanya ke saya, sampeyan faham nggak katanya, di Sekolah Dasar (SD) ada sebutan guru kelas dan guru bidang studi. Guru kelas kata beliau yaitu guru yang mengajarkan semua mata pelajaran (IPS, IPA, Matematika, dan sebagainya) di kelas. Nah &#8230;&#8230; dosen kelas adalah dosen yang kira-kira seperti seperti guru kelas itulah. Mengajarkan mata kuliah bermacam-macam, padahal dari beberapa mata kuliah yang diajarkan terdapat mata kuliah yang tidak sesuai dengan kompetensinya, malahan ada mata kuliah yang tidak pernah dipelajari oleh sang dosen kelas tersebut sewaktu “sidin” kuliah “bahari”. Ironisnya kata pak dosen keren, sebagian mata kuliah yang dipegang dosen kelas, sudah tersedia dosen yang kompeten bidang ilmunya untuk mengajarkan mata kuliah tersebut. Saya nyeletuk, hebat &#8230;. hebat &#8230;.. hebat&#8230;.. dosen kelas itu. Sang dosen keren melotot matanya pada saya sembari menghentikan makanan yang siap disantapnya. Apanya yang hebat katanya. Saya bilang, karena saya tidak sanggup dan tidak mampu seperti dosen kelas itu, karena sang dosen kelas menguasai semua bidang ilmu. Selanjutnya saya menyambung, kalau rata-rata dosen seperti dosen kelas tadi, bakalan pensiun kita-kita nih, cukup ada dosen kelas selesailah sudah !</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Gimana nih tanggapan rekan-rekan dosen dan mahasiswa-mahasiswa tercintaku &#8230;&#8230;.. !</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hairiyadi.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hairiyadi.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hairiyadi.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hairiyadi.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hairiyadi.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hairiyadi.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hairiyadi.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hairiyadi.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hairiyadi.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hairiyadi.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hairiyadi.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hairiyadi.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hairiyadi.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hairiyadi.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hairiyadi.wordpress.com&amp;blog=3157368&amp;post=81&amp;subd=hairiyadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hairiyadi.wordpress.com/2009/05/15/dosen-kelas-obrolan-warung-kopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0eb17dd5068da419398ed170093263c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hairiyadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
